Di Bawah Jati, Kopi Mengubah Nasib Petani Ngareanak Kendal

Kopi di Desa Ngareanak, Kendal, tumbuh di bawah hutan jati dan berubah dari tanaman sela menjadi sumber penghidupan baru bagi warga desa hutan.
Perbedaan rasa itu, menurut Slamet, bukan hanya soal ketinggian. Iklim, tanah, hingga cara petani memperlakukan tanaman ikut menentukan.
Kopi di Ngareanak tumbuh perlahan di bawah bayang jati, tidak terpapar matahari penuh, membuat buah matang lebih stabil.
Jenis yang paling banyak ditanam adalah Robusta daun sempit dan daun tipis. Bagi pesanggem hutan, jenis ini paling “bersahabat”. Tahan naungan, rajin berbuah, dan relatif mudah dirawat.
Dalam satu hektare lahan, sekitar seribu pohon kopi tumbuh berdampingan dengan jati. Saat tanaman memasuki usia empat tahun, satu pohon bisa menghasilkan sekitar lima kilogram kopi basah per tahun.
“Kalau dikumpulkan, satu hektare bisa lima ton kopi basah. Setelah dikeringkan, kira-kira satu ton per tahun,” tutur Slamet.
Angka itu cukup berarti bagi warga desa hutan. Kopi mulai mengisi dapur, membiayai sekolah anak, hingga menambah pendapatan di sela musim paceklik. Apalagi dalam dua tahun terakhir, harga kopi cenderung naik dan stabil.
“Sekarang masyarakat sudah merasakan. Kopi bukan lagi tanaman tambahan,” katanya.
Namun perjalanan kopi Ngareanak belum sepenuhnya mulus. Modal dan pemasaran masih menjadi pekerjaan rumah.
Sebagian besar petani menjual kopi saat panen dengan harga standar kepada tengkulak. Mereka belum punya cukup modal untuk menyimpan, apalagi mengolah lebih lanjut.
Padahal, menurut Slamet, kopi kering yang disimpan satu hingga dua tahun justru memiliki kualitas rasa lebih baik dan harga jual bisa naik dua kali lipat. Nilai tambah akan semakin besar jika kopi diolah hingga tahap sangrai atau dipasarkan ke kedai kopi.
Artikel Terkait

Harga Bahan Pokok di Pasar Bumiayu Naik Jelang Lebaran 2026, Cabai Rawit Merah Tembus Rp110 Ribu per Kilogram

Daftar Harga Sembako di Pasar Bumiayu Brebes Jelang Lebaran, Beras hingga Minyak Goreng Segini

Harga Cabai Rawit Merah di Pasar Bumiayu Rp96 Ribu per Kg Jelang Lebaran, Sempat Tembus Rp100 Ribu
