Kiat Usaha Wanita Tani Desa Kupu Brebes Olah Bawang Goreng

Kiat Usaha Wanita Tani Desa Kupu Brebes Olah Bawang Goreng

Senin, 22 Desember 2025 | 22.35

BREBES, puskapik.com - Bawang goreng kini tak hanya menjadi pelengkap hidangan, namun juga menjadi simbol kebangkitan ekonomi perempuan. Hal ini terbukti di Desa Kupu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Br...

BREBES, puskapik.com - Bawang goreng kini tak hanya menjadi pelengkap hidangan, namun juga menjadi simbol kebangkitan ekonomi perempuan. Hal ini terbukti di Desa Kupu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. Melalui usaha olahan bawang goreng ini, perempuan perempuan di Desa Kupu yang biasanya hanya menjadi butik (buruh pembersih bawang-red), kini bisa naik kelas. Ya, naik kelas karena bisa membantu keluarga untuk meningkatkan kesejahteraannya. Adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar, yang perlahan menorehkan cerita tentang kemandirian dan pemberdayaan perempuan di Desa Kupu ini. Yakni, melalui pelatihan pengolahan bawang merah menjadi produk bwang goreng yang bernilai jual tinggi. Para istri buruh tani bawang merah yang selama ini hanya berkutat menjadi butik. Namun dengan kehadirian KWT Mawar Desa Kupu bisa membawa perubahan agar mereka mandiri. Bawang merah hasil panen petani biasanya di jual dalam bentuk mentah dengan harga fluktuatif. Terutama saat musim panen raya. Di sisi lain, ketika harga bawang merah jatuh, para istri buruh pun tak bisa banyak membantu keuangan keluarga. Apalagi suaminya yang hanya sebatan buruh tani, dengan penghasilan tidak menentu. Melihat kondisi itu, mendorong KWT Mawar yang di ketuai Tasriani, mengambil langkah inovatif. Yakni, mengolah hasil bawang merah menjadi bawang goreng kemasan, yang memiliki nilai tambah ekonomi dan daya simpan lebih lama. Berawal di tahun 2014 lalu, Tasriani mulai merintis pembentukan KWT Mawar Desa Kupu tersebut. Semula hanya beranggotakan beberapa gelintir istri buruh tani bawang merah, kini berkembang menjadi 15 anggota. “Dulu kami hanya membantu di sawah atau dapur rumah. Sekarang kami bisa ikut berperan menghasilkan produk yang bisa dijual dan menambah penghasilan keluarga,” ujar Ketua KWT Mawar Desa Kupu, Tasriani. Melalui program pelatihan yang diikuti para anggota KWT Mawar, mereka dibekali pengetahuan tentang produksi bawang goreng. Mulai dari pemilihan bawang berkualitas, teknik pengirisan yang tepat, proses penggorengan higienis, hingga pengemasan yang menarik dan sesuai standar pangan. Tak hanya itu, pelatihan juga menyentuh aspek manajemen sederhana, seperti perhitungan biaya produksi, penentuan harga jual, dan strategi pemasaran. "Saya mulai merintis pemberdayaan perempuan ini sejak tahun 2014, dimulai dengan membentuk KWT Mawar Desa Kupu," kata Tasriani. Dia mengaku, tertarik dengan pemberdayaan perempuan ini, lantaran prihatin melihat para istri buruh tani di desannya yang tidak bisa ikut membantu suami. Di sisi lain, desanya menjadi salah satu sentra penghasil bawang merah di Brebes. "Tujuan saya sederhana, biar perempuan tani di desa kami ini bisa mandiri dan tidak tergantung pada suami. Mereka juga bisa membantu dari sisi penghasilan keluarga," ungkapnya. Untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan, lanjut dia, memang tidak semudah yang dibanyangkan. Berbagai langkah dilakukan, termasuk dalam upaya mencari dukungan dan dana untuk pelaksanaan pelatihan dan permodalan. Namun berkat kerja keras dan semangatnya, KWT Mawar pimpinannya bisa mendapatkan program untuk pemberdayaan anggota. Salah satunya, pelatihan pengolahan bawang merah menjadi bawang goreng. "Alhamdulilah, di tahun 2025 ini KWT Mawar juga mendapatkan program pelatihan pengolahan bawang merah. Anggarannya dari Anggota DPRD Brebes. Bahkan, baru selesai kemarin," ungkap Tasriani. Harga bawang merah yang fluktuatif dirasakan menjadi kendala dalam produksi olahan bawang goreng. Bahkan, harga bawang goreng yang dijual tergantung dari harga bahan baku bawang merah. Apalagi, bawang merah yang dijadikan bahan harus benar-benar yang bagus. Jika bahan bawang merahnya tidak pilihan, produksinya tidak maksimal. Produk bawang goreng KWT Mawar biasanya di pasarkan ke pusat-pusat oleh-oleh di Pantura Brebes. Untuk kemasan toples harganya Rp 40.000, dan di jual di pusat oleh-oleh Rp 50.000. Namun harga ini ketika kondisi harga bawang stabil. Ketika ada kenaikan bahan baku, harganya bisa mencapai Rp 60.000/ toples. "Untuk saat ini, secara kelompok memang sedang tidak produksi, hanya melaksanakan pelatihan pengolahan. Produksi saat ini dilakukan di setiap rumah anggota. Hal itu memang menjadi tujuan kami, memberi modal ketrampilan anggota agar bisa mandiri mengangkat ekonomi keluarga," pungkasnya. ***
Penulis: Redaksi Puskapik Editor: Redaksi Puskapik

Tags:

#Bawang goreng #Kelompok wanita tani #Komoditas bawang brebes #petani bawang
Bagikan:

Artikel Terkait