Dari Balik Jeruji, Lahan 92,5 Hektar Lapas Terbuka Kendal Jadi Motor Ketahanan Pangan

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Agus Andrianto bersama Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya. edhot

Lapas Terbuka Kendal bertransformasi jadi sentra pertanian, perikanan & peternakan, dukung ketahanan pangan nasional.

KENDAL, puskapik.com – Wajah Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Kendal, Jawa Tengah, kian berubah. Tak lagi sekadar tempat menjalani masa pidana, lapas ini menjelma menjadi kawasan produktif berbasis Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) yang menopang program ketahanan pangan nasional.

Perubahan tersebut terlihat jelas saat Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Agus Andrianto, bersama Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, meninjau langsung pengelolaan lahan produktif di dalam area lapas. Puluhan hektar lahan yang dulunya belum tergarap kini disulap menjadi sentra pertanian, perikanan, dan peternakan terpadu.

Dari total proyeksi lahan seluas 92,5 hektar, sekitar 60 persen telah dimanfaatkan secara optimal. Hamparan melon premium tumbuh di lahan pertanian modern, sementara kolam-kolam budidaya menghasilkan udang dan ikan salin. Di sisi lain, kandang-kandang ternak berisi bebek, sapi, dan kambing menjadi bagian dari sistem produksi yang terintegrasi.

Baca Juga: Perbaikan Talud Sungai Ketiwon Tegal Dikebut, DPUPR Kerahkan 50 Pekerja

Seluruh kegiatan tersebut dijalankan oleh warga binaan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi terlibat langsung dalam proses produksi, mulai dari pengolahan lahan, perawatan, hingga panen dan distribusi.

Program ini diperkuat melalui kemitraan strategis dengan Rejo Farm. Kolaborasi tersebut menghadirkan pendampingan teknis dan manajemen usaha, sehingga produk yang dihasilkan memiliki standar kualitas dan nilai ekonomi yang kompetitif. Skema ini juga memastikan warga binaan memperoleh keterampilan kerja yang aplikatif sebagai bekal setelah bebas nanti.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Agus Andrianto, menegaskan bahwa program SAE menjadi bukti konkret kontribusi lembaga pemasyarakatan terhadap pembangunan nasional.

“Program SAE mendorong lapas berkontribusi nyata pada ketahanan pangan nasional. Model ini juga mengubah paradigma bahwa pemasyarakatan mampu menjadi bagian dari solusi pembangunan,” ujarnya.

Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, turut mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, optimalisasi SAE perlu terus diperluas agar lapas tidak hanya menjadi ruang pembinaan, tetapi juga pusat produksi yang berkelanjutan dan berdampak ekonomi.

“Optimalisasi SAE terus diperluas agar lapas menjadi ruang pembinaan sekaligus pusat produksi yang berkelanjutan,” tegasnya.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait