Pemprov Jateng Upayakan Pemulihan Psikologis Korban Banjir Pemalang

Pemprov Jateng tangani banjir Pemalang dengan fokus keselamatan dan trauma healing warga, termasuk pendampingan psikologis bagi korban terdampak.
PEMALANG, puskapik.com – Pemerintah provinsi Jawa Tengah melakukan berbagai upaya untuk menangani korban banjir di Kabupaten Pemalang. Selain penyelematan terhadap warga yang terdampak, juga akan mengupayakan pemulihan psikologis warga.
Sebab, banyak warga yang masih trauma terhadap bencana banjir bandang yang melanda daerah tersebut.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyampaikan, saat melakukan kunjungan ke lokasi bencana di Kabupaten Pemalang, banyak warga menceritakan pengalaman saat banjir bandang datang secara mendadak.
Baca Juga: Pemerintah Batalkan Acara Perayaan Hari Jadi Pemalang di Gunung Jimat
Arus deras yang membawa lumpur dan kayu membuat warga panik dan berusaha menyelamatkan diri dalam kondisi serba terbatas.
“Banjir ini terjadi bebarengan, tidak hanya di Kabupaten Pemalang, tetapi juga di wilayah bawah Gunung Slamet seperti Purbalingga, sebagian Tegal, dan Kabupaten Brebes,” ujar Taj Yasin saat melakukan peninjauan lokasi terparah dampak banjir bandang di kawasan Lereng Gunung Slamet, di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Minggu, 25 Januari 2025.
Ia menegaskan, prioritas utama pemerintah adalah keselamatan masyarakat, disusul pemulihan kondisi psikologis warga.
“Mereka masih trauma. Kami melihat ketika ada pemantik sedikit saja, emosinya sudah meluap-luap. Ini yang harus kita redakan dulu,” katanya.
Baca Juga: Satu Korban Longsor di Watukumpul Pemalang Ditemukan
, pemerintah akan memikirkan secara serius aspek kesehatan fisik dan mental warga, termasuk pendampingan dan trauma healing, sebelum masuk ke tahap evaluasi dan penanganan lanjutan pascabencana.
“Kita pikirkan bagaimana kesehatannya, bagaimana mentalnya, trauma healing-nya supaya bisa pulih kembali. Setelah itu baru kita evaluasi bersama,” ucapnya.
Warga Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Sulastri (27), menjadi salah satu pengungsi yang masih terpukul. Di hadapan Taj Yasin, ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan musibah yang merenggut nyawa sang suami, Tanto (33).
Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu, 17 Januari 2026 sekitar pukul 02.00 WIB. Saat kejadian, Sulastri berada di bagian belakang rumah, sementara suaminya berada di bagian depan.
“Kejadian pas pukul 02.00 WIB. Itu yang paling besar menghantam rumah-rumah. Datangnya dari belakang rumah,” katanya.
Artikel Terkait

FLS3N Pageruyung Kendal Jadi Ajang Pelestarian Budaya dan Pencarian Bibit Seniman Muda

Pemprov Jateng Beri Tali Asih untuk Penghafal Al-Qur’an, Capai 2.000 Santri per Tahun

10 Provinsi Perkuat Kolaborasi Energi Bersih, Sampah, dan Giant Sea Wall
