Said Iqbal Datangi APF Kendal, Cegah PHK dan Dorong Kebangkitan Industri Tekstil

Said Iqbal mengunjungi PT APF Kendal untuk mencegah PHK dan mendorong restrukturisasi. APF dinilai strategis bagi kebangkitan industri tekstil nasional.
KENDAL,puskapik.com – Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi perhatian serius dalam kunjungan Penasehat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, ke PT Asia Pacific Fiber (APF) di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk mendeteksi lebih dini persoalan yang dihadapi perusahaan sekaligus memastikan operasional APF tetap berjalan. Pemerintah, kata Said Iqbal, tidak menginginkan persoalan operasional berujung pada penutupan perusahaan dan PHK pekerja.
“Ada dua tujuan saya datang ke sini. Pertama melakukan deteksi dini, early warning, memastikan operasional perusahaan APF ini berjalan sesuai dengan harapan pemerintah, negara, pengusaha dan buruh, serta terhindar dari PHK,” kata Said Iqbal.
Menurut dia, sejumlah regulasi di tingkat kementerian, termasuk yang berkaitan dengan Kementerian Keuangan dan lembaga terkait lainnya, turut berdampak terhadap operasional APF.
Baca Juga: GBF 2026 Resmi Dibuka, Wabup Brebes Wurja: Bumiayu Paling Meriah
Ia menilai APF merupakan perusahaan yang memiliki karakteristik khusus dan tidak mudah digantikan. Karena itu, keberlangsungan perusahaan dinilai perlu mendapat perhatian pemerintah.
“Kalau sampai PT APF yang sudah beroperasi empat tahun ini tidak diberi bantuan oleh pemerintah, diselamatkan operasionalnya, maka bisa saja terjadi penutupan perusahaan dan PHK. Ini yang kita tidak mau. Pemerintah tidak mau,” ujarnya.
Said Iqbal menyebut saat ini masih terdapat hampir 800 pekerja yang menggantungkan mata pencahariannya dari APF. Karena itu, persoalan perusahaan akan segera dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto.
“Saya akan lapor kepada Presiden, tentu berkoordinasi dengan Pak Menko dan pimpinan DPR RI untuk memastikan jangan sampai terjadi operasional yang terganggu di PT APF dan terhindar PHK,” katanya.
Baca Juga: Maksimalkan Potensi Zakat, Baznas Kabupaten Tegal Kukuhkan UPZ KUA
Selain mencegah PHK, Said Iqbal juga melihat peluang besar untuk mengembangkan APF menjadi bagian dari kebangkitan industri tekstil nasional.
Ia mengatakan APF memiliki posisi strategis karena bergerak dari sektor hulu, khususnya polyester, yang dapat dikembangkan hingga ke industri hilir seperti tekstil, garment, kain, hingga produk turunan lainnya.
Menurutnya, pengembangan industri dari hulu hingga hilir berpotensi menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Bahkan, berdasarkan pembahasan dengan pihak perusahaan, pengembangan ekosistem industri tersebut dalam lima tahun diperkirakan dapat menyerap hingga 500 ribu tenaga kerja.
“Kalau ini dihidupkan kembali dari hulu ke hilir, maka diperkirakan ratusan ribu orang akan terserap dalam lapangan kerja yang baru,” ujarnya.
Baca Juga: Minim Fasilitas Disabilitas, Perpustakaan Kabupaten Tegal Mulai Berbenah
Said Iqbal juga menyebut peluang menghidupkan kembali industri tekstil yang pernah berhenti, termasuk pengembangan sektor tekstil dan garment dalam kelompok industri yang memiliki keterkaitan dengan APF.
Ekosistem tersebut, kata dia, tidak hanya mencakup pekerja pabrik. Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta pekerja rumahan yang mendukung rantai produksi juga berpotensi ikut tumbuh.
Karena itu, ia akan mendorong adanya dukungan pembiayaan dan investasi agar industri tekstil nasional dapat kembali berkembang.
“Ini sebagaimana amanat Presiden Prabowo Subianto yang kita kenal dengan reindustrialisasi, membangkitkan kembali industri tekstil,” katanya.
Baca Juga: Watu Jaran, Situs Tua di Brebes yang Masih Menyimpan Tanya
Sementara itu, Presiden Direktur PT APF Vasudevan Ravi Shankar mengatakan perusahaan saat ini masih berupaya bertahan di tengah kondisi industri tekstil yang penuh tantangan.
Menurutnya, salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah restrukturisasi perusahaan. APF dinilai menjadi salah satu pilar dalam industri tekstil sehingga keberadaannya perlu dipertahankan.
“Perlu diperhatikan adalah soal restrukturisasi karena APF salah satu pilar di industri tekstil dan tidak menyerah tetap bertahan berproduksi meski hanya 30 persen,” katanya.
Ia menegaskan APF ingin tetap menjadi bagian dari upaya membangkitkan kembali industri tekstil nasional. Hal tersebut sejalan dengan keinginan pemerintah agar industri yang masih memiliki potensi tidak ditinggalkan.
Baca Juga: Bakesbangpol Kota Tegal Catat 200 Ormas, Hibah Rp 5-10 Juta Jadi Stimulus Keaktifan
“Kita ingin bangkit industri tekstil di Indonesia karena presiden ingin industri yang berpotensi jangan ditinggalkan,” ujarnya.
Dari sisi pekerja, kondisi penurunan produksi juga menjadi perhatian. Ketua Serikat Pekerja Mandiri APF, Ahmad Paidi, mengatakan pihaknya mewakili sekitar 899 karyawan yang masih berharap perusahaan dapat terus beroperasi.
“Semakin hari ada penurunan produksi dan butuh suntikan modal untuk keberlangsungan perusahaan,” kata Ahmad.
Ia mengaku para pekerja belum siap menghadapi kemungkinan kehilangan pekerjaan apabila perusahaan tidak mampu mempertahankan operasionalnya.
Hal senada disampaikan Vice President HR PT APF Metoni As Ma’aris. Ia menyebut pada 2023 pernah terjadi penghentian sekitar 3.000 pekerja dan penutupan satu pabrik di Karawang yang berdampak terhadap sekitar 1.400 orang.
Karena itu, keberadaan APF saat ini dinilai harus dijaga agar persoalan operasional tidak kembali berujung pada pengorbanan pekerja.
Kehadiran Said Iqbal di tengah kondisi tersebut pun disambut positif kalangan buruh. Mereka berharap kunjungan tersebut menjadi pintu masuk bagi pemerintah untuk memberikan solusi konkret, terutama terkait dukungan modal dan restrukturisasi perusahaan.
Bagi pekerja, keberlangsungan APF bukan hanya menyangkut perusahaan, tetapi juga nasib ratusan keluarga yang menggantungkan penghasilan dari industri tersebut.**