Warga Lereng Gunung Ungaran Kendal Konsolidasi Tolak Proyek Geothermal

Warga lereng Gunung Ungaran di Kendal berkonsolidasi menolak rencana proyek geothermal karena khawatir berdampak pada lingkungan dan masyarakat.
KENDAL,puskapik.com – Rencana pengembangan proyek energi panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran mulai memantik keresahan warga yang tinggal di kawasan lereng. Sejumlah pegiat lingkungan, relawan sosial, dan masyarakat di wilayah Kendal memilih menyatukan barisan untuk menolak rencana tersebut.
Konsolidasi dilakukan puluhan relawan pencinta alam dan pegiat sosial di Balkondes Tamanrejo, Kecamatan Limbangan, Sabtu (12/9/2026). Mereka tergabung dalam Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo.
Pertemuan itu tidak sekadar menjadi forum penyampaian aspirasi. Para relawan juga membahas langkah koordinasi untuk memperkuat dukungan masyarakat di kawasan lereng Gunung Ungaran yang masuk wilayah Kendal.
Baca Juga: Lima Pekan Program Paham AI, 4.367 Pelajar Kendal Kantongi Sertifikat
Koordinator Wilayah Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo Kendal, Sri Joko Triyono, mengatakan masyarakat perlu memiliki wadah untuk menyampaikan keresahan terkait rencana proyek geothermal.
“Ini adalah wadah untuk menyuarakan keresahan kita tentang proyek energi panas di Gunung Ungaran, karena bagian utara adalah wilayah Kendal. Korwil ini nantinya akan menjadi sarana pegiat lingkungan untuk melakukan penolakan,” ujarnya.
Menurut Sri Joko, masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Ungaran memiliki kekhawatiran terhadap konsekuensi pembangunan proyek tersebut. Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya melihat kebutuhan energi, tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar.
Baca Juga: Anggota PMR Kendal Diuji Baca Situasi Darurat
“Kita tidak mau anak cucu nantinya menanggung risiko dari pembangunan proyek ini. Pasalnya Jawa Tengah tidak kekurangan pasokan listrik sehingga tidak perlu proyek energi panas bumi ini,” katanya.
Penolakan serupa disampaikan Hindrawan, salah satu relawan dari Limbangan. Ia menilai kawasan Gunung Ungaran memiliki fungsi ekologis yang harus dijaga. Rencana pembangunan proyek, menurutnya, perlu dikaji secara menyeluruh agar tidak menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan.
“Kita tidak ingin kelestarian alam rusak akibat proyek energi panas ini. Relawan di sini siap menggalang kekuatan untuk menggagalkan proyek ini dengan dalih apa pun,” tegasnya.
Para relawan menilai dampak pembangunan geothermal tidak bisa hanya dilihat dari sisi penyediaan energi. Mereka menyoroti potensi persoalan lingkungan, risiko geologis, hingga kemungkinan pengaruh terhadap kesehatan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar.
Baca Juga: Pembongkaran Gedung Hogwan Rampung, Jalan Lapangan Asri Bumiayu Kembali Bisa Dilewati
Ketua Aliansi Penyelamat Gunung Ungaran dan Telomoyo, Hafidz Sungkar, mengatakan pembentukan aliansi tersebut menjadi bagian dari upaya menghimpun kekuatan masyarakat untuk mencegah proyek geothermal berjalan tanpa mempertimbangkan kepentingan warga.
“Dari hasil pengamatan penyediaan listrik di Pulau Jawa sudah cukup dan surplus sehingga tidak perlu ada pemaksaan pembangunan geothermal ini,” katanya.
Dukungan terhadap penolakan juga datang dari kalangan relawan sosial. Ketua Rescue Ambulan Siboli, Susanto, menyatakan pihaknya ikut menyuarakan penolakan karena khawatir pembangunan proyek justru menimbulkan dampak bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Ungaran.
“Kami melihat tidak ada manfaat bagi warga di sekitar lereng gunung dari proyek ini. Hanya akan membuat kerusakan dan berdampak pada warga di sekitar lereng Gunung Ungaran. Kami dari Rescue Ambulan Siboli yang bergerak di lingkup sosial ikut mendukung dan menolak,” ungkapnya.
Aliansi selanjutnya akan memperluas koordinasi dengan warga dan kelompok masyarakat di lereng Gunung Ungaran. Konsolidasi tersebut diarahkan untuk menyatukan sikap sekaligus memperkuat penyampaian aspirasi terkait rencana geothermal.
Mereka menegaskan, penolakan dilakukan karena ingin memastikan kawasan Gunung Ungaran tetap terjaga dan masyarakat yang berada di sekitarnya tidak menjadi pihak yang harus menanggung risiko dari sebuah proyek energi.**



