Anggota MPR RI Firnando Ajak Warga Tanjungsari Perkuat Karakter Kebangsaan

Sabtu, 7 Februari 2026 | 22.06
Anggota MPR
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Tahap VII di Tanjungsari Rowosari Kendal. (Foto: Edhot/puskapik.com)

Anggota MPR RI, Firnando H. Ganinduto menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Tahap VII di Tanjungsari Kendal sebagai pedoman Kebangsaan

KENDAL, puskapil.com - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan media sosial yang memengaruhi hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat, warga diingatkan agar tidak kehilangan arah dan jati diri kebangsaan.

Kemajuan zaman dinilai harus diimbangi dengan kecerdasan nurani serta penguatan nilai moral yang bersumber dari Pancasila.

Hal tersebut disampaikan Anggota MPR RI, Firnando H. Ganinduto, saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Tahap VII di Tanjungsari.

Baca Juga: Doa Bersama untuk Korban Longsor Warnai Pesta Siaga Kwarcab Pemalang

Kegiatan itu diikuti masyarakat, tokoh agama, serta kalangan pemuda yang antusias berdiskusi mengenai tantangan kehidupan berbangsa di era digital.

Menurut Firnando, teknologi memang membawa banyak manfaat, mulai dari kemudahan akses pendidikan, peluang ekonomi digital, hingga pelayanan publik yang semakin cepat.

Namun di sisi lain, masyarakat juga dihadapkan pada persoalan serius seperti maraknya hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, serta lunturnya etika dalam bermedia sosial.

“Teknologi boleh maju, tapi karakter bangsa harus lebih maju. Empat Pilar inilah kompas moral kita,” tegasnya di hadapan peserta sosialisasi.

Baca Juga: Main Ban Karet di Bendungan Juwero Kendal, Satu Orang Hanyut dan Hilang

Ia menjelaskan, Empat Pilar MPR RI yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep atau hafalan.

Nilai-nilai tersebut, kata dia, harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Firnando menekankan bahwa kemajuan digital tidak boleh menggerus nilai kemanusiaan dan persatuan. Justru, teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas sosial, memperluas edukasi kebangsaan, serta membangun generasi muda yang cerdas sekaligus beretika.

“Kita boleh canggih secara teknologi, tapi jangan sampai miskin empati. Kecerdasan digital harus dibarengi kecerdasan moral,” ujarnya.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah warga dan tokoh agama menyampaikan pandangan tentang pentingnya pendidikan karakter bagi anak sejak dini, terutama dalam menghadapi arus informasi yang begitu cepat dan sulit disaring.

Baca Juga: Tanah Bergerak di Sirampog Brebes Meluas, 122 Rumah Rusak

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait