Jejak Ikhlas K.H. Ahmad Dahlan: Membedah Literasi Filantropi di Balik Gurita Aset Muhammadiyah

Selasa, 23 Desember 2025 | 22.33

Penulis: Rudi Yahya, Pengamat Kebijakan Publik PURBALINGGA, puskapik.com - Dalam peta organisasi internasional, Muhammadiyah sering kali disebut sebagai salah satu organisasi Islam modernis terbesar d...

Penulis: Rudi Yahya, Pengamat Kebijakan Publik

PURBALINGGA, puskapik.com - Dalam peta organisasi internasional, Muhammadiyah sering kali disebut sebagai salah satu organisasi Islam modernis terbesar dengan manajemen aset paling mandiri. Namun, kemegahan ribuan amal usaha yang tersebar dari sektor pendidikan hingga kesehatan ini tidak tumbuh dari ruang hampa. Fondasinya diletakkan melalui praktik literasi pengorbanan yang dilakukan oleh pendirinya, K.H. Ahmad Dahlan.

Sebuah fragmen sejarah yang kini kembali viral menceritakan momen krusial saat kas organisasi kosong, sementara para guru Muhammadiyah belum menerima honor selama tiga bulan. Di titik nadir tersebut, Kyai Dahlan menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal instruksi, melainkan keteladanan (uswah hasanah).

Melelang Harta demi Kemanusiaan

Kyai Dahlan menempuh jalan yang tergolong ekstrem pada masanya. Ia mengiklankan seluruh perabot rumah tangganya di surat kabar untuk dijual murah. Mulai dari kain batik, sepeda pancal, hingga mesin ketik dilelang dengan satu tujuan: memastikan dapur para guru tetap mengepul.

Peristiwa ini menarik perhatian para saudagar di Yogyakarta. Menariknya, para pembeli yang tergerak justru membayar barang-barang tersebut namun menolak membawanya pulang. Mereka memahami bahwa benda-benda itu adalah alat perjuangan. Peristiwa ini menjadi catatan penting dalam sejarah Filantropi Islam Modernis, ketika aset pribadi dilebur menjadi aset publik demi keberlangsungan institusi.

Kekuatan Amal Usaha: Data dan Realita

Untuk memahami mengapa tindakan Kyai Dahlan di masa lalu berdampak besar pada posisi Muhammadiyah sebagai “organisasi kaya” saat ini, data literasi aset berikut menjadi relevan. Hingga tahun 2024, Muhammadiyah tercatat mengelola:

  • Lebih dari 170 perguruan tinggi

  • Ribuan sekolah (SD hingga SMA/K)

  • Sekitar 400-an rumah sakit dan klinik di bawah naungan PKU Muhammadiyah

  • Ratusan panti asuhan serta lembaga zakat yang dikelola secara profesional

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait