Ketika Moralitas Kalah dari "Siasat" Gawai, Kasus Absensi Fiktif

Kasus absensi fiktif yang menyeret ribuan ASN di Kabupaten Brebes merupakan potret buram yang mengonfirmasi bahwa transformasi digital di birokrasi masih terjebak pada kulit luar.
Oleh : Iqbaal Harits Maulana
Penulis buku Mayantara (Berlayar di Samudra Digital) dan Pandu Literasi Digital
puskapik.com - Kasus absensi fiktif yang menyeret ribuan ASN di Kabupaten Brebes merupakan potret buram yang mengonfirmasi bahwa transformasi digital di birokrasi masih terjebak pada kulit luar.
Fenomena ini bukan sekadar kegagalan teknis pada sebuah platform, melainkan kegagalan sistemik dalam menanamkan pilar etika digital (digital ethics).
Terlalu naif jika publik hanya menuding celah aplikasi sebagai biang keladi, karena secanggih apa pun sistem dibangun, ia akan selalu menemukan titik lemah di tangan pengguna yang kehilangan integritas.
Baca Juga: Data Putus Sekolah di Kota Tegal Terkuak, Mahasiswa Diajak Turun Tangan
Sangat ironis ketika laporan menunjukkan bahwa 80 persen dari temuan tersebut justru didominasi oleh kalangan tenaga pendidik.
Guru, yang secara filosofis merupakan hulu dari pembentukan karakter bangsa, seharusnya menjadi model utama dalam adopsi teknologi yang bertanggung jawab.
Jika para pendidik justru lebih piawai dalam mencari siasat digital untuk memanipulasi kehadiran, maka kita sedang menghadapi krisis keteladanan yang akut.
Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan mengoperasikan gawai atau memenangkan perlombaan kecanggihan fitur, melainkan tentang bagaimana menjaga martabat dan kejujuran di ruang siber.


