Data Putus Sekolah di Kota Tegal Terkuak, Mahasiswa Diajak Turun Tangan

Disdikbud Kota Tegal ajak mahasiswa berkolaborasi tangani anak putus sekolah yang masih tercatat 1.420 orang melalui relawan pendidikan dan edukasi.
TEGAL, puskapik.com - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal, mengajak mahasiswa ikut terlibat dalam upaya penanganan anak putus sekolah hingga persoalan pendidikan lain di Kota Bahari.
Ajakan itu disampaikan Kepala Disdikbud Kota Tegal, Dewi Umaroh, saat audiensi bersama Aliansi Mahasiswa Tegal di Ruang Rapat Komisi I DPRD Kota Tegal, Rabu 6 Mei 2026.
Menurut Dewi, mahasiswa dapat mengambil peran sebagai relawan pendidikan, nara sumber kegiatan edukasi hingga agen pendidikan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Bupati Banyumas Serahkan Mobil Siaga CSR untuk Desa Kalibagor, Dukung Layanan Darurat Warga
"Adanya Aliansi Mahasiswa Tegal, kami ajak untuk berkolaborasi," kata Dewi.
Dewi mengungkapkan, berdasarkan data awal Pusat Data dan Teknologi Informasi atau Pusdatin, terdapat 2.906 orang di Kota Tegal yang tercatat tidak melanjutkan sekolah.
Namun setelah dilakukan verifikasi dan validasi, jumlah tersebut menyusut menjadi 1.420 orang.
Dari jumlah itu, sebanyak 173 orang menyatakan berminat kembali melanjutkan pendidikan.
Baca Juga: Warga Cilibur Brebes Bangun Jalan Putus Secara Swadaya, Anggaran Capai Rp300 Juta
"Karena usianya macam-macam, diarahkan ke sekolah nonformal. Kalau di PKBM itu bayar, sedangkan SKB gratis," ujar Dewi.
Dewi berharap, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pengkritik kebijakan, tetapi juga ikut turun langsung mendampingi masyarakat, khususnya anak-anak yang rentan putus sekolah.
Sementara itu, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono menegaskan, sektor pendidikan dan kesehatan menjadi fokus utama pemerintahannya sejak awal menjabat kepala daerah.
Menurut Dedy Yon, Pemkot Tegal bahkan mengalokasikan anggaran pendidikan melebihi ketentuan mandatory spending yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.
"Kalau minimal 20 persen, kita di Kota Tegal anggarkan sekitar 25 persen untuk pendidikan," kata Dedy Yon.
Dedy Yon menyebut, pemerintah daerah terbuka terhadap berbagai masukan, termasuk dari kalangan mahasiswa.
Putra daerah asal Brebes ini mengaku, membuka ruang seluas-luasnya untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dalam perjalanan kepemimpinannya pada periode kedua sebagai wali kota Tegal.
"Kami terbuka kepada siapa pun, termasuk mahasiswa," ujar Dedy Yon.
Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthmainnah menambahkan, upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman menjadi bagian dari visi Kota Tegal, sebagai kota ramah anak dan perempuan.
Saat ini, Kota Tegal masih berada pada kategori Nindya dalam penilaian Kota Layak Anak atau KLA.
"Kita membuat satgas anti kekerasan. Ini sedang dan sudah kita lakukan. Semoga ke depan kita bisa mencapai KLA kategori utama," kata perempuan yang akrab disapa Mba Iin itu.
Menurut Mba Iin, Pemkot Tegal juga mulai melibatkan pelajar, mahasiswa dan organisasi kepemudaan dalam kegiatan roadshow anti bullying di sekolah-sekolah.
"Beberapa bulan lalu saya mulai turun langsung mengkampanyekan anti bullying di sekolah. Jika memang memungkinkan, rekan-rekan mahasiswa juga bisa ikut terlibat," tandas Mba Iin.



