Jamasan Pusaka Pemalang, Bupati Boyong Keris ke Ndalem Notonegoro

Kamis, 25 Juni 2026 | 07.43
puskapik

Tradisi jamasan pusaka digelar di Pemalang. Bupati Anom Widiyantoro memimpin pembersihan keris, tombak, dan kereta kencana sebagai pelestarian budaya leluhur.

PEMALANG, puskapik.com – Jalan depan Pendopo Kabupaten Pemalang mendadak gelap pada Rabu malam 24 Juni 2026.

Suasana kawasan kantor pemerintahan yang biasanya ramai lalu lalang kendaraan itu pun berubah menjadi sunyi.

Di tengah gelap, pijar obor terang redup mengiringi rombongan Bupati Anom Widiyantoro dan Wakil Bupati Nurkholes yang keluar dari dalam Pendopo Kabupaten Pemalang. Mereka berjalan tenang tanpa suara.

Baca Juga: Evaluasi Satgas MBG, Sekda Kabupaten Tegal Ungkap Penyebab 16 SPPG Kena Suspend

Irama kempul yang berdengung pelan memandu langkah mereka. Malam itu, pusaka-pusaka milik Pemerintah Kabupaten Pemalang diboyong menuju Ndalem Notonegoro, kediaman Bupati Pemalang pada masa lampau.

Bangunan bersejarah itu menjadi saksi berlangsungnya ritual pembersihan pusaka yang selama ini tersimpan di Pendopo Kabupaten Pemalang, mulai dari tombak, klewang, hingga keris.

Satu demi satu pusaka dibersihkan oleh Bupati Anom Widiyantoro. Tak hanya pusaka keris dan tombak, dua kereta kencana kebanggaan Kabupaten Pemalang, Kyai Seto Mraman dan Kyai Turonggo Jati, pun turut dijamas.

Baca Juga: Penanganan Stunting, Gerakan GENTING Pemkab Tegal di Kudaile Sasar Keluarga Berisiko

Kedua pusaka kereta kencana itu hanya dikeluarkan setahun sekali saat perayaan Hari Jadi Kabupaten Pemalang.

Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, mengatakan, tradisi jamasan tidak hanya bertujuan menjaga kondisi fisik pusaka dan kereta kencana agar tetap terawat, tetapi juga menjadi pengingat terhadap warisan yang ditinggalkan leluhur.

"Kita saat ini hidup di zaman modern. Modernisasi dan inovasi sangatlah penting. Namun, apabila tidak disertai dengan perilaku dan langkah yang baik, hal itu dapat menyebabkan hilangnya harga diri serta martabat manusia," ujarnya.

Menurut Anom Widiyantoro, kemajuan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat melupakan akar budayanya.

Justru di tengah perubahan yang begitu cepat, nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur menjadi penuntun agar kehidupan tetap berpijak pada etika dan penghormatan terhadap sesama.

Maka itu, ia mengajak masyarakat Kabupaten Pemalang untuk terus menjaga dan melestarikan budaya yang telah memberikan tuntunan hidup, mengajarkan kerendahan hati, serta menjadi hasil pengabdian panjang para pendahulu. **

Artikel Terkait