Menteri Kebudayaan Luncurkan Kalender Digital Jawa Purwa

Rabu, 8 Juli 2026 | 13.39
Menteri Kebudayaan Prof Dr H Fadli Zon tabuh gong saat peluncuran Kalender Digital Jawa Purwa produk Kejawen Maneges di Sasana Adirasa TMII Jakarta, 6 Juli 2026. (Dok)
Menteri Kebudayaan Prof Dr H Fadli Zon tabuh gong saat peluncuran Kalender Digital Jawa Purwa produk Kejawen Maneges di Sasana Adirasa TMII Jakarta, 6 Juli 2026. (Dok)

Kalender Digital Jawa Purwa resmi diluncurkan di TMII. KRT Rosa Mulya Aji menyebut inovasi ini menghidupkan kembali penanggalan asli Jawa berbasis kearifan lokal.

SLAWI, puskapik.com - Kementerian Kebudayaan RI luncurkan Kalender Digital Jawa Purwa produk Kejawen Maneges di Sasana Adirasa TMII Jakarta, 6 Juli 2026.

Peluncuran Kalender Digital Jawa Purwa yang dilakukan Menteri Kebudayaan Prof Dr H Fadli Zon SS MSc itu, dinilai sarat makna, fungsi, dan nilai kearifan lokal tersendiri.

Inisiasi dan pengembang Kalender Digital Jawa Purwa itu, yakni Prof Dr Purwo Susongko SPd MPd, dan KRT Rosa Mulya Aji.

Baca Juga: Protes Seragam Sekolah, Wali Murid Bawa Pengacara ke Dindikpora Pemalang

Keduanya Penasehat (Rsi Palon) dan Ketua Umum (Bahureksa) Perkumpulan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Kejawen Maneges .

"Selama ini belum ada penanggalan Jawa yang momentum pergantian tahunya otentik berasal dari Sejarah atau peristiwa yang terjadi di Jawa," kata Prof Dr Purwo Susongko.

Dijelaskan, Kalender Jawa Purwa merupakan hasil pengembangan sistem penanggalan yang menggabungkan dua konsep waktu dalam tradisi Jawa, yakni pranatamangsa sebagai pembagian waktu secara kuantitatif dan pawukon sebagai pembagian waktu secara kualitatif.

Baca Juga: Penjahit Kendal Mengeluh Kehilangan Pelanggan, Kenaikan Bahan Baku Jadi Penyebab

Pranatamangsa merupakan sistem penanggalan berbasis peredaran matahari yang dimulai setiap 22 Juni hingga 21 Juni tahun berikutnya.

Dalam sistem ini terdapat 12 mangsa yang sejak dahulu digunakan masyarakat Jawa sebagai pedoman membaca musim, cuaca, serta menentukan waktu bercocok tanam.

Menurutnya, berdasarkan naskah Serat Purwacarita dan Babad Galuh Purba, pranatamangsa dipercaya telah disusun sejak 911 SM oleh Mpu Hubayun dan Mpu Radi yang hidup di lereng Gunung Gora atau Gunung Slamet.

Sementara itu, pawukon merupakan siklus kalender selama 210 hari yang terbagi dalam 30 wuku.

Siklus tersebut diawali pada Minggu Pahing atau Raditya Jenar, Wuku Sinta, dan berakhir pada Sabtu Legi atau Tumpak Umanis, Wuku Watugunung.

"Setiap hari dalam siklus pawukon memiliki makna, fungsi, dan nilai kearifan lokal tersendiri. Filosofinya adalah mengingatkan masyarakat Jawa agar selalu eling lan waspada dalam menjalani kehidupan," ujar Prof Dr Purwo Susongko

Ia menambahkan, pergantian tahun dalam Kalender Jawa Purwa ditandai dengan datangnya musim panas di Pulau Jawa yang berkaitan dengan palintangan Sapi Gumarang.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait