Gelombang Tiga Meter Ancam Perairan Tegal HNSI Minta Nelayan Tidak Melaut

Selasa, 13 Januari 2026 | 13.04
Ketua DPC HNSI Kota Tegal, H. Eko Susanto, saat mengumpulkan sejumlah nelayan, baik pemilik maupun pengurus kapal di Kantor HNSI beberapa waktu lalu. Foto istimewa
Ketua DPC HNSI Kota Tegal, H. Eko Susanto, saat mengumpulkan sejumlah nelayan, baik pemilik maupun pengurus kapal di Kantor HNSI beberapa waktu lalu. Foto istimewa

Ketua HNSI Kota Tegal mengimbau nelayan tidak melaut saat cuaca ekstrem demi keselamatan, gelombang tinggi capai hingga tiga meter.

TEGAL, puskapik.com - Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal, H. Eko Susanto, mengimbau para pemilik dan pengurus kapal agar tidak memaksakan diri melaut di tengah cuaca ekstrem yang terjadi saat ini.

Menurut Eko, pada musim Baratan yang berlangsung Desember hingga Februari tinggi gelombang laut dapat mencapai hingga tiga meter.

Kondisi serupa juga kerap terjadi saat musim Timuran pada periode Juni hingga Agustus.

"Cuaca saat ini cukup ekstrem. Kami imbau nelayan untuk tidak melaut. Keselamatan jauh lebih penting daripada pendapatan," ujar Eko, Rabu 13 Januari 2026.

Baca Juga: Persiapan SPMB 2026, DPRD Kota Tegal Bahas Zonasi dan Kepala Sekolah

Eko yang juga merupakan Anggota Fraksi PKB DPRD Kota Tegal menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 500 kapal yang terdata di DPC HNSI Kota Tegal.

Dari jumlah tersebut, beberapa kapal diketahui sudah berada di laut sebelum imbauan dikeluarkan.

"Kapal-kapal yang sudah terlanjur melaut sebagian tidak bisa beraktivitas. Ada yang bertahan di laut dan ada juga yang mencari perlindungan dengan menepi ke pulau terdekat," ungkap Eko.

Eko menjelaskan, rata-rata kapal nelayan asal Kota Tegal melakukan penangkapan ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan atau WPP 711 dan 712.

Namun, kapal dengan ukuran di atas 30 gross ton atau GT sangat terdampak kondisi cuaca ekstrem.

Baca Juga: Penjualan Kue Keranjang Imlek di Tegal Lesu, Pengusaha Keluhkan Harga Bahan Baku Naik

"Kapal berukuran di atas 30 GT yang sudah berada di laut tidak bisa beroperasi sama sekali. Mereka hanya bertahan dan menunggu kondisi membaik," kata Eko.

Imbauan untuk tidak melaut tersebut, lanjut Eko, juga berlaku bagi kapal-kapal tradisional di wilayah Kelurahan Muarareja.

Eko meminta para nelayan untuk bersabar dan bertahan setidaknya selama satu pekan ke depan hingga kondisi cuaca dinilai lebih aman.

Terkait kondisi paceklik, Eko mengakui bahwa selama tidak melaut, kebutuhan nelayan biasanya dipenuhi dengan meminjam kepada pemilik kapal.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait