Lintasan Batu dan Pasir Cacaban Tegal Uji Ketangguhan Offroader Nasional

Minggu, 13 September 2026 | 06.56 WIB
Peserta Kejurnas Adventure Offroad 2026 dari Tim Bengkel Mobil MKS Tegal, bersiap memasuki garis start pada special stage 5 di DTW Waduk Cacaban, Sabtu 12 September 2026.
Peserta Kejurnas Adventure Offroad 2026 dari Tim Bengkel Mobil MKS Tegal, bersiap memasuki garis start pada special stage 5 di DTW Waduk Cacaban, Sabtu 12 September 2026.

Kejuaraan Nasional Adventure Offroad 2026 di Waduk Cacaban Tegal menguji 66 offroader dengan lintasan batu, pasir, dan tanjakan ekstrem sekaligus mempromosikan wisata daerah.

TEGAL, puskapik.com - Di tepian Waduk Cacaban, yang biasanya tenang, deru mesin dan gemuruh ban memecah suasana, Sabtu 12 September 2026.

Lintasan tanah, batu dan pasir berubah menjadi arena adu nyali dalam Kejuaraan Nasional Adventure Offroad 2026.

Sebuah panggung yang tak hanya menguji keterampilan, tetapi juga memperkenalkan wajah lain pariwisata Kabupaten Tegal.

Berbeda dari lintasan offroad yang kerap identik dengan kawasan tambang atau galian C, seri di Tegal menawarkan lanskap yang kontras.

Baca Juga: 135 Pereli Adu Nyali Trek Ekstrem 5,5 Km di Kejurnas Sprint Rally 2026 KEK Industropolis Batang

Hamparan waduk menjadi latar, sementara jalur ekstrem membentang di depannya.

"Selama ini kita main di area tambang. Di sini suasananya beda, dekat waduk, pemandangannya bagus. Ini pengalaman baru," ujar Organizing Committee, Herry Rinjani.

Sebanyak 66 peserta ambil bagian setelah panitia membatasi jumlah starter demi menyesuaikan kapasitas lintasan dan paddock.

Baca Juga: Dewan Hakim MTQ Nasional 2026 Dikukuhkan, Menag Dorong Standar Penilaian MTQ Mendunia

Awalnya, pendaftar mencapai sekitar 70 orang. Namun, keterbatasan ruang memaksa panitia menghentikan pendaftaran lebih awal.

Para offroader terbagi dalam empat kelas berdasarkan kapasitas mesin, mulai dari G1 di bawah 1.000 cc hingga G4 atau free for all atau FFA di atas 4.800 cc.

Karakter lintasan di Cacaban, menurut Herry, menjadi tantangan tersendiri.

Kombinasi batu dan pasir, menciptakan tingkat kesulitan berbeda dibanding seri sebelumnya yang didominasi debu kering.

Kejuaraan ini merupakan putaran keempat dari lima seri nasional tahun 2026, setelah sebelumnya digelar di Semarang, Palangka Raya dan Pasuruan.

Usai Tegal, rangkaian akan berlanjut ke Jawa Barat sebagai penutup musim.

Namun, keindahan lanskap tak serta-merta mempermudah perjuangan peserta.

Sejak sore hingga malam, sejumlah kendaraan tampak kesulitan menaklukkan lintasan.

Tantangan paling berat muncul di special stage atau SS 4 pada Sabtu malam.

Baru saja meninggalkan garis start, peserta langsung dihadapkan pada tanjakan terjal.

Jalur kemudian menurun dengan permukaan berbatu sebelum kembali menanjak dengan kemiringan mencapai sekitar 50 hingga 60 derajat.

Kondisi ini membuat banyak kendaraan kehilangan traksi, bahkan mogok di tengah lintasan. Antrean panjang pun tak terhindarkan.

Beberapa unit dari kelas G1 dan G2 terlihat tersangkut, memaksa panitia melakukan evakuasi bergantian.

Debu beterbangan, menambah berat perjuangan sekaligus menguji ketahanan fisik peserta.

Di sisi lain, ratusan warga memadati area sekitar lintasan.

Mereka bertahan hingga malam, menyaksikan satu per satu kendaraan mencoba keluar dari jebakan medan.

Antusiasme penonton menjadi penanda bahwa olahraga ekstrem ini memiliki daya tarik tersendiri di tengah masyarakat.

Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman menilai ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan momentum promosi daerah.

Peserta yang datang dari berbagai provinsi, mulai dari Jawa Tengah hingga luar Jawa seperti Sumatera dan Kalimantan, diharapkan membawa cerita tentang potensi wisata Tegal.

"Ini kebanggaan bagi kami karena Kabupaten Tegal dipercaya menjadi tuan rumah. Sekaligus mengenalkan Waduk Cacaban sebagai destinasi wisata, selain Guci yang sudah lebih dulu dikenal," ujar Ischak.

Ischak menambahkan, keberadaan ajang berskala nasional ini membuka peluang pengembangan wisata berbasis olahraga petualangan.

Lanskap alam yang dimiliki Kabupaten Tegal dinilai cukup potensial untuk mendukung kegiatan serupa di masa mendatang. **

Artikel Terkait