FGD Mangku Pancuran Sewu di Kampus IBN Tegal, Kearifan Lokal Masih Dipandang Tradisi Simbolik

Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mangku Pancuran Sewu: Telaah atas Relasi Budaya Tegal terhadap Tatanan Besar Kebudayaan Nuswantara” digelar di Aula Kampus Institut Agama Islam Bakti Negara atau IBN Tegal
SLAWI, puskapik.com - Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mangku Pancuran Sewu: Telaah atas Relasi Budaya Tegal terhadap Tatanan Besar Kebudayaan Nuswantara” digelar di Aula Kampus Institut Agama Islam Bakti Negara atau IBN Tegal di Slawi pada Kamis 17 April 2026 pekan lalu.
Anggota Dewan Pengarah Dewan Kebudayaan Kabupaten Tegal (DKDKT) Teguh Puji Harsono memantik forum tersebut dengan memaparkan fakta - fakta yang melingkupi Tegal baik dari aspek geologi, geografi maupun geomorfologi sebagai unsur - unsur yang menopang lahirnya geoculture berupa relasi sosial dari orang - orang yang tinggal dan hidup di atasnya.
Teguh juga menyinggung pesan penting dari tokoh pendiri Tegal, Ki Gede Sebayu, yang menempatkan air sebagai simbol utama kehidupan masyarakatnya.
Baca Juga: Polres Pemalang Gelar Apel Kesiapan Antisipasi Gangguan Kamtibmas
“Pemimpin Tegal itu harus bisa menata jalannya air,” kata Teguh menirukan pesan leluhur tersebut yang tidak hanya bermakna harfiah mengatur perjalanan air dari gunung hingga ke laut semata namun juga makna simbolik air sebagai konsepsi dari tata kehidupan masyarakat yang perlu di'wengku' dengan adiil agar bisa makmur dan sejahtera.
Hadir pada forum tersebut beberapa akademisi dari kalangan kampus seperti DR Saefudin MA ( Rektor IBN Tegal, DR Woro Hasari M.Kep (Universitas BHAMADA) , DR Agus Wibowo (UPS) MT, Budi Susanto MT (Politeknik Purbaya)
Selain itu beberapa praktisi dari berbagai disiplin ilmu antara lain geolog M.Kevin Ardian ST, Sosiolog Drs Adi Rustoto, Pegiat Filsafat DR Eka Yulianto ST Mphil, Budayawan Ki Herman Sinung Janutama, Richard Sosrodjojo dll
Sebagai salah satu penggagas dari forum diskusi tersebut, Richard Sosrodjojo mengungkapkan pentingnya kita mempersiapkan generasi Indonesia emas 2045 dengan cara bersama - sama bergotong royong membangkitkan rasa kepedulian kita terhadap aspek pendidikan generasi muda kita dibawah tekanan budaya modern yang terkadang tidak sesuai dengan tatanan budaya kita.
"Tuhan sudah memberikan banyak anugerah kepada kita secara gratis baik berupa SDA, Ilmu Pengetahuan maupun ajaran hidup bersama yang mesti kita kelola dengan baik dan tepat sasaran, tepat guna juga tepat waktu demi keharmonisan hidup dan kebaikan hidup bersama sesama mahluk Tuhan " katanya.
Sementara itu, pegiat filsafat alumnus UGM Dr Mohammad Eka Yulianto lebih menyoroti perilaku masyarakat modern hari ini yang dipandang semakin berjarak dari pengetahuan leluhur yang sebenarnya memiliki nilai penting dalam memahami relasi manusia dengan manusia juga dengan alam dan Tuhannya.


