Kisah Mbah Panggung Bangun Peradaban Islam di Kota Tegal

Kamis, 29 Januari 2026 | 14.29
Makam Mbah Pangung berada di Jalan Kyai Haji Mukhlas Gang 5 No. 20, Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal.
Makam Mbah Pangung berada di Jalan Kyai Haji Mukhlas Gang 5 No. 20, Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal.

Makam Mbah Panggung di Tegal menjadi bukti sejarah penyebaran Islam. Ulama kharismatik murid Walisongo ini hingga kini ramai diziarahi.

TEGAL, puskapik.com - Keberadaan makam-makam para leluhur menunjukkan bahwa Tegal memiliki sejarah yang kaya akan tokoh-tokoh penting dalam penyebaran Islam. Yakni, makam Mbah Panggung, makam Ki Gede Sebayu, makam Pangeran Purbaya, makam Amangkurat dan sejumlah makam lainnya yang sering didatangi peziarah.

Mbah Panggung merupakan seorang ulama kharismatik yang berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Kota Tegal dan sekitarnya.

Terbukti dari keberadaan makamnya yang terletak di Jalan Kyai Haji Mukhlas Gang 5 No. 20, Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa Mbah Panggung hidup pada masa para Walisongo, menjadikannya bagian dari sejarah panjang penyebaran Islam di Nusantara.

Baca Juga: Ziarah Ke Makam Leluhur bagian Rangkaian Hari Jadi Pemalang ke 451 tahun

Mbah Panggung dikenal sebagai murid dari Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. Dua tokoh besar Walisongo yang sangat terkenal.

Berdasarkan cerita juru kunci makam, Mbah Panggung hidup pada kurun waktu abad ke-14 hingga ke-16 dengan nama asli Syekh Abdurrahman. Seperti banyak ulama lainnya yang datang ke Pulau Jawa untuk berdakwah, Mbah Panggung berasal dari Jazirah Arab.

Tokoh karismatik ini pertama kali menginjakkan kaki di sebuah pulau yang saat itu tak berpenghuni, yang kini menjadi Kelurahan Panggung Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal. Di pulau inilah, Mbah Panggung menetap dan memulai dakwahnya hingga akhir hayatnya.

Makamnya kini menjadi tujuan ribuan peziarah setiap bulan Sya'ban, saat digelar haul dan pengajian untuk memperingati wafatnya. Merujuk pada tempat tinggalnya yang berupa pulau karang menjulang tinggi di tengah laut, terpisah dari Pulau Jawa.

Baca Juga: Ngalab Berkah MTQ

Karena tempat tinggalnya yang tinggi seperti panggung, orang-orang menyebutnya mbah yang berada di panggung, sehingga lahirlah sebutan Mbah Panggung. Bahkan harus mendayung perahu ke pesisir Pulau Jawa, yang kemudian menjadi wilayah Kota Tegal. Dakwah yang dilakukan Mbah Panggung tidak hanya terbatas di Kota Tegal, tetapi juga menjangkau wilayah Kabupaten Brebes.

Selain melalui pendekatan perorangan, Mbah Panggung juga berdakwah dengan cara membaur di tengah masyarakat. Apa yang dilakukan masyarakat saat itu, seperti bercocok tanam, selalu diikuti oleh Mbah Panggung.

Baca Juga: Pemulihan Pasca Banjir Bandang Pulosari, Damkar Pemalang Fokus Bersihkan Jalan

Hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak hanya berdakwah melalui lisan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang dapat diterima oleh masyarakat setempat.Menurut juru kunci, dakwah Islam yang dilakukan oleh Mbah Panggung tidaklah mudah. Pada awalnya, beliau harus berdakwah dengan pendekatan perorangan.

Kota Tegal berharap makam Mbah Panggung, sebagai penyiar Islam yang penting, dapat menjadi destinasi utama para peziarah. Saat ini, pemerintah kota sedang mempersiapkan fasilitas penunjang seperti lapangan parkir di bekas kantor Bina Marga di Jalan Kolonel Sudiarto.

Diharapkan fasilitas ini dapat memudahkan akses bagi para peziarah yang ingin berkunjung ke makam Mbah Panggung.Sebagai ulama yang berdedikasi tinggi, Mbah Panggung menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya melalui kata-kata tetapi juga melalui perbuatan.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait