Sejarah Candi Gagang Golok, Warisan Kuno di Pedalaman Brebes

Kondisi Candi Gagang Golok di Desa Galuh Timur, Tonjong, Brebes memprihatinkan dan butuh sentuhan pelestarian agar warisan sejarah ini tetap lestari kini!
BREBES, puskapik.com - Di tengah hutan jati Desa Galuh Timur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, tersimpan sebuah situs purbakala yang dikenal sebagai Candi Gagang Golok.
Meski belum sepenuhnya terungkap, situs ini menjadi salah satu penemuan penting yang memperkaya jejak sejarah di wilayah Brebes bagian selatan.
Candi Gagang Golok pertama kali menarik perhatian publik sekitar tahun 2019, ketika tim arkeolog bersama masyarakat menemukan struktur bangunan kuno yang terkubur di kawasan Perhutani Dukuh Kalipucung.
Baca Juga: Sejarah Candi Pangkuan, Jejak Peradaban di Lereng Brebes Selatan
Dari hasil penelitian awal, bangunan ini diperkirakan berasal dari masa sangat tua, bahkan ada dugaan antara sekitar 500 SM hingga 500 Masehi. Ini menjadikannya salah satu situs kuno di Jawa Tengah.
Dari berbagai sumber yang digali puskapik.com, struktur bangunan Candi Gagang Golok berukuran sekitar 8x8 meter. Secara arkeologis, situs ini menunjukkan ciri khas bangunan suci.
Itu karena ditemukan berbagai komponen penting seperti umpak (alas tiang), sumur atau sendang, altar, serta arca penjaga gerbang yang dikenal sebagai Dwarapala.
Baca Juga: Polres Tegal Siapkan Pengamanan Pemberangkatan Jemaah Calon Haji, Termasuk GOR Trisanja, Ini 7 Spot Wifi Gratis yang Tersebar di Wilayah Slawi
Keberadaan Dwarapala ini menguatkan dugaan bahwa tempat tersebut dulunya digunakan sebagai lokasi pemujaan atau kegiatan religius.
Menariknya, di bagian inti situs terdapat struktur menyerupai sumur dengan tangga menuju ruang bawah tanah.
Masyarakat setempat meyakini tempat tersebut dulunya digunakan sebagai pemandian atau tempat suci, bahkan dikaitkan dengan tokoh bangsawan atau ratu dari masa lampau.
Hal ini menunjukkan bahwa fungsi Candi Gagang Golok tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki nilai ritual yang tinggi.
Berdasarkan penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta, situs ini memiliki dua fase. Yakni, Fase awal berbentuk punden berundak (pra-Hindu) dan fase kedua berbentuk candi yang diperkirakan berkembang pada masa Mataram Kuno.
Nama Gagang Golok
Selain temuan arkeologis, keberadaan Candi Gagang Golok juga tidak lepas dari cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. Nama Gagang Golok sendiri diyakini berasal dari legenda tentang senjata pusaka berupa golok milik raja yang terlempar hingga ke wilayah Galuh Timur.



