Tradisi Penjamasan Tombak Abirawa di Batang pada Malam 1 Suro

Pemkab Batang menggelar tradisi Penjamasan Tombak Abirawa dan sejumlah pusaka pada malam satu Suro di Pendapa Kabupaten dilanjutkan pagelaran wayang kulit
BATANG, puskapik.com - Pemerintah Kabupaten Batang menggelar tradisi Penjamasan Tombak Abirawa yang digelar pada malam 1 Suro di Pendapa Kabupaten Batang, Senin 15 Juni 2026 malam.
Penjamasan Tombak Abirawa diawali arak-arakan pusaka yang dilanjutkan pentas wayang kulit.
Prosesi diawali dengan kirab Tombak Abirawa bersama 62 pusaka milik Kabupaten Batang yang terdiri dari 56 tombak, lima keris, dan satu pedang.
Bupati Batang M Faiz Kurniawan menuturkan, momentum malam Satu Sura tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga sarana memperkuat rasa syukur dan doa bersama untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
"Malam satu suro ini menjadi momentum untuk bersyukur atas kesehatan, rezeki, keluarga.Serta nikmat yang telah diberikan Allah SWT selama satu tahun terakhir,”ujar Bupati Faiz.
Bupati Faiz pun mengajak masyarakat menjadikan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram sebagai penguat niat serta refleksi diri agar senantiasa diberikan kesehatan, kemudahan, serta keberkahan dalam menjalani kehidupan.
Menjaga Adat Istiadat
Menurut Bupati Faiz, tradisi penjamasan pusaka dan pagelaran wayang kulit pada malam Satu Suro menjadi bagian penting dalam upaya menjaga adat istiadat serta melestarikan warisan budaya para leluhur.
"Tradisi itu merupakan bagian dari upaya menjaga dan nguri-uri budaya leluhur. Sebagai generasi penerus, kita memiliki tanggung jawab menjaga warisan budaya dan melanjutkan perjuangan para pendahulu,” tandasnya.
Dia berharap, melalui momentum malam 1 Suro, masyarakat Kabupaten Batang senantiasa diberikan kesehatan, hidup rukun.
Baca Juga: Terjaring Razia di Pemalang, 17 PSK Dikirim ke Panti Rehabilitasi Solo
"Semoga Kabupaten Batang menjadi daerah yang gemah ripah loh jinawi, masyarakatnya sehat, guyub rukun, dan senantiasa dirahmati Tuhan SWT,” harapnya
Tradisi Penjamasan Tombak Abirawa rutin digelar setiap malam 1 Suro sebagai bagian dari pelestarian budaya daerah sekaligus bentuk penghormatan terhadap pusaka peninggalan leluhur Kabupaten Batang.
“Kehadiran pagelaran wayang kulit dalam rangkaian pelestarian budaya adiluhung nenek moyang,"tuturnya.***


