Wagub Jateng Tegaskan Pemprov Gandeng Rifa’iyah Kuatkan UMKM, Pendidikan, dan Dakwah Berbasis Keteladanan

Minggu, 26 April 2026 | 14.03
puskapik

Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen dorong sinergi Rifa’iyah perkuat UMKM, pendidikan, dan dakwah berbasis keteladanan di masyarakat luas

TEMANGGUNG, puskapik.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan arah kemitraannya dengan Jam’iyah Rifa’iyah tidak berhenti pada simbolik organisasi, tetapi menyasar penguatan ekonomi umat, akses pendidikan, dan ketahanan nilai keagamaan di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, saat menghadiri pelantikan pengurus wilayah sekaligus pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) V Rifa’iyah Jawa Tengah, di Gedung Pemuda Pemkab Temanggung, Minggu, 26 April 2026.

Baca Juga: Gunung Slamet Aman Pendakian, Tapi Ada Syaratnya

Dalam sambutannya, tokoh yang akrab disapa Gus Yasin ini menempatkan Rifa’iyah sebagai mitra strategis dalam pembangunan berbasis komunitas Pemprov Jateng.

Salah satu bentuk konkret yang sudah berjalan adalah dukungan terhadap UMKM binaan Rifa’iyah, khususnya batik khas Rifa'iyah dari Batang.

Baca Juga: Dari Cangkang Telur, Susu, dan Madu, Pria Asal Tegal Ini Sulap Jadi Pipa Gading

“Setiap ada kegiatan, kami sengaja menghadirkan batik Rifa'iyah sebagai cinderamata,” kata Wagub yang memimpin Jawa Tengah bersama Gubernur Jateng Ahmad Luthfi tersebut.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menghubungkan kekuatan sosial-keagamaan dengan ekonomi lokal.

Rifa’iyah dinilai memiliki basis jamaah kuat sekaligus tradisi produksi yang bisa dikembangkan sebagai ekosistem ekonomi mandiri.

Di sektor pendidikan, Pemprov Jateng juga membuka akses beasiswa bagi guru, kiai, dan santri, termasuk dari kalangan Rifa’iyah. Program ini diharapkan mempercepat peningkatan kualitas SDM berbasis pesantren tanpa sekat organisasi.

“Silakan dimanfaatkan. Kita ingin kader-kader Rifa’iyah ikut maju lewat pendidikan. Tidak ada dikotomi, semua punya kesempatan yang sama,” tegasnya.

Namun, pendekatan pembangunan itu tidak dilepaskan dari fondasi nilai. Dalam sambutannya, Gus Yasin mengaitkan peran organisasi keagamaan dengan pelajaran dari kisah Nabi Yunus dan Nabi Muhammad.

Ia menyoroti bagaimana dakwah tidak selalu berbuah cepat, bahkan bisa dihadapkan pada penolakan. Nabi Yunus, misalnya, sempat meninggalkan kaumnya di Ninawa karena tidak dihiraukan. Namun justru setelah itu masyarakat berbalik kepada tauhid. Sebaliknya, Nabi Muhammad mendapatkan penguatan melalui peristiwa Isra Mikraj di tengah tekanan dakwah.

Dua kisah tersebut, menurut Gus Yasin, memberi pesan yang sama bahwa konsistensi dan keteguhan lebih penting daripada ukuran keberhasilan jangka pendek.

“Dakwah itu tidak boleh ‘ngambek’. Didengar atau tidak, ada pengikut atau tidak, harus tetap jalan. Itu pelajaran penting bagi pemimpin,” ujarnya.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait