Menyusuri Desa Berkabut Demi Opor Ayam Kampung Rawisan Ninine yang Bikin Nagih

Warung Rawisan Ninine Purbalingga sajikan ketupat opor ayam kampung jantan beraroma kayu bakar dengan cita rasa desa yang khas.
PURBALINGGA, puskapik.com - Perjalanan dingin berkabut menyusuri jalanan desa yang berkelok di Kecamatan Kutasari, langsung lunas begitu sepiring ketupat opor ayam kampung jantan mendarat di meja Warung Rawisan Ninine.
Begitu suapan pertama masuk ke mulut, rasa capek di jalan langsung ambyar.
Kuah opor kuning yang sedikit kental, oseng kedelai hitam dan aroma khas masakan kayu bakar bikin momen sarapan atau makan siang jadi super syahdu.
Warung yang berlokasi di Desa Karangcegak RT 06/ RW 03, Kabupaten Purbalingga ini memang spesialis masakan pedesaan.
Baca Juga: Polres Tegal Amankan Hari Libur Terakhir Nataru
Mulai dari suasana yang adem, tungku tanah liat sampai aroma sangit kayu bakar yang bikin perut langsung kode keras.
Meski pakai ayam kampung pejantan, tekstur dagingnya sama sekali nggak alot, justru lembut dan gurih.
Sambalnya yang sedikit pedas juga sukses bikin mata auto melek dan nambah nasi atau ketupat.
Warung Rawisan Ninine sendiri bukan pemain baru.
Dirintis sejak 1987 oleh Bu Parsinah di Pasar Tobong, usaha ini kini diteruskan generasi kedua dan ketiga.
Anak Parsinah, Narsin (60) dan Tukinah (58), kini dibantu cucunya, Hebi (32).
"Menu utama kita opor ayam kampung jantan," ujar Hebi, Sabtu 3 Januari 2026.
Baca Juga: Parah, Pembukaan Lahan Baru Masih Terjadi di Lereng Gunung Slamet
Penyajiannya khas, ketupat dipotong-potong, disiram kuah opor kuning, lalu diberi oseng kedelai hitam, yang disebut rawisan.
Buat pelengkap, ada juga oseng ati ampela dan orek tempe.
Setiap hari, warung ini menghabiskan 8-10 ekor ayam kampung yang dibagi menjadi sekitar 18-20 potong per ekor.
Harga per potong paha, sayap atau dada dibanderol Rp 15 ribu, sementara kepala ayam Rp 20 ribu.
Ketupat atau nasi masing-masing Rp 5 ribu dan yang paling diburu pelanggan adalah kepala ayam berjengger alias lamba.
Menurut Hebi, ayam kampung jantan dipilih karena lebih empuk dan minim lemak.
Warung Rawisan Ninine biasanya buka mulai pukul 09.00 atau 10.00 WIB. Kalau lagi ramai, pukul 14.00 WIB sudah ludes. Tapi di hari normal, bisa sampai pukul 16.00 WIB.
Baca Juga: Libur Usai Operasi Lilin, Polres Pekalongan Tetap Siaga Jaga Ketat Lokasi Wisata
Rahasia kelezatannya ada di proses masak yang nggak instan. Ayam dimasak selama satu jam sebelum dicampur bumbu dan santan.
Setelah itu ditambah gula jawa dan bumbu rahasia warisan keluarga.
"Sensasi sangit dari kayu bakar itu yang bikin rasanya beda," kata Hebi.
Buat yang liburan ke Baturaden atau Purwokerto, mampir ke Warung Rawisan Ninine jelas worth it.
Dari pusat Kota Purbalingga cuma sekitar 25 menit, sementara dari Baturaden sekitar 30-45 menit perjalanan.
Saking larisnya, pengunjung bahkan bisa reservasi dulu di nomor 085802816747.
Warung ini mampu menampung hingga 80 orang dan sudah pernah disambangi pejabat, artis seperti Sodik Monata hingga turis mancanegara.
Intinya, kalau lagi pengin kulineran yang lowkey desa vibes tapi rasanya high level, Rawisan Ninine wajib masuk list. **


