Anak Bangsa Itu Bernama Hohanes Bastian Roja

Urip Haryanto, DPD IKAL LEMHANNAS RI Jawa Tengah

Kisah pilu anak SD di NTT yang meninggal karena tak mampu membeli buku dan pensil menjadi cermin kegagalan negara memenuhi kebutuhan dasar pendidikan.

Baca Juga: Dana Desa Menyusut, Paguyuban Kades Banyumas Sampaikan Aspirasi ke Ahmad Luthfi soal Bankeu, KDMP, Hingga Relokasi Puskesmas

Anak NTT itu tidak pergi karena tak ingin hidup, Ia pergi karena hidup berasa terlalu berat untuk anak seusianya. Triliunan Anggaran dalih untuk Indonesia Emas, tetapi Buku Tak kunjung Sampai.

Di saat yang sama, negara berbicara tentang program - program besar, gegap gempita mercusuar. Anggaran digelontorkan, spanduk dibentangkan. Narasi dibangun megah masa depan gizi dan generasi emas diucapkan dengan penuh doktrin untuk di percaya.

Namun di satu rumah kecil, buku dan pensil tak pernah datang. Apa arti program besar jika anak-anak masih tumbang oleh hal paling dasar?. Apa arti slogan jika seorang anak kalah bukan oleh pelajaran, tapi oleh kemiskinan?

Anak itu tidak butuh pidato. Ia tidak butuh konferensi pers. Ia hanya butuh alat untuk belajar.

Yang Hilang Bukan Hanya Satu Nyawa. Kematian ini bukan sekadar berita. Ini adalah pengakuan sunyi terhadap sistem yang gagal melindungi anak anak bangsa yang lemah.

Yang hilang bukan hanya seorang anak. Yang hilang adalah suatu cita-cita yang tak dapat tumbuh, satu bangku sekolah yang akan selamanya kosong, dan satu pertanyaan akan menghantui kita: Bagaimana mungkin anak mati bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan pesil?

Ibu pertiwi kini memeluk penyesalan yang bukan miliknya. Negara seharusnya memeluk tanggung jawab yang tak boleh dihindari. Jangan Biarkan Ini Menjadi Angka. Jika tragedi hanya lewat sebagai berita, kita semua sebagai Bangsa telah Gagal.

Jika ini hanya jadi statistik, tak ada pelajaran yang benar-benar dipelajari. Anak-anak tidak seharusnya memilih antara sekolah dan rasa malu atau memilih mengakhiri hidup.

Mereka tidak seharusnya memikul beban ekonomi yang bahkan orang dewasa pun sering tak sanggup. Dan tidak boleh lagi ada anak yang merasa hidupnya lebih murah dari sebuah Buku dan sebatang Pensil.

Halaman 2 dari 3

Artikel Terkait