Bicara Tanpa Data dan Fakta, Ketenangan Palsu Itu Bom Waktu

alam tidak pernah tunduk pada logika target, dan bencana tidak pernah mau bernegosiasi dengan optimisme yang miskin fakta.
Baca Juga: Perbaikan Darurat Jalan Batunyana-Danasari Tegal Usai, Kendaraan Roda 4 Bisa Lewat
Bicara tanpa berpijak pada bumi kenyataan adalah tindakan melukis cakrawala di atas kaca yang retak. Kita merasa telah menyelamatkan dunia dari kekacauan, padahal kita hanya sedang merajut jaring laba-laba untuk menahan laju batu yang jatuh.
Padahal, data adalah kompas di tengah samudera kabut, dan fakta adalah jangkar yang menjaga kita agar tidak hanyut diterjang arus delusi. Tanpa keduanya, kata-kata hanyalah buih di tengah samudra. Kita butuh keberanian untuk menatap realita, meski ia serupa cermin yang memantulkan wajah kita yang lelah dan luka.
Sebab, hanya dengan mengakui adanya lubang di lambung kapal, kita bisa mulai menambalnya. Menolak data demi menjaga perasaan adalah bentuk pengkhianatan paling halus terhadap kemanusiaan, itu seperti membiarkan orang lain berjalan menuju tepi jurang sambil tetap meyakinkan mereka bahwa mereka sedang mendaki menuju puncak.
Kelak, ketika tabir penutup itu koyak oleh tajamnya realita, kepanikan yang kita takuti tidak akan datang sebagai gerimis, melainkan sebagai air bah yang menghancurkan segala martabat yang tersisa. Kepercayaan yang selama ini dipupuk akan luluh lantah, menyisakan puing-puing kredibilitas yang tak mungkin lagi direkatkan oleh ribuan klarifikasi. Penyakit kronis berupa "penyangkalan sistematis" ini hanya akan berakhir pada satu titik tak lain adalah kelumpuhan total saat bencana benar-benar tiba. Kita akan menyadari, dengan cara yang paling menyakitkan, bahwa bom waktu yang kita rakit dengan benang-benang kata indah itu selalu memiliki waktu untuk berdetak menuju angka nol. Pada akhirnya, kejujuran yang pahit adalah obat yang menyelamatkan, sementara ketenangan tanpa fakta adalah racun bermadu yang membunuh secara perlahan di tengah pelukan yang terlihat hangat.
Pada akhirnya, kebenaran tidak membutuhkan pembelaan, ia hanya membutuhkan keberanian untuk diakui. Menunda kepanikan dengan mengaburkan fakta hanyalah cara kita memperpanjang napas di dalam ruang yang makin sempit. Realita tidak akan melunak hanya karena kita menolak menyebut namanya. Sebelum jarum jam mencapai titik nadirnya, tanyakanlah pada Nurani, lebih baik mana, berdiri di atas puing kejujuran yang nyata, atau bertahta di atas istana pasir yang sedang dijemput ombak? Jangan biarkan hari esok menjadi hancur hanya karena kita terlalu pengecut untuk menghadapi hari ini dengan apa adanya. Sembuhkan penyakit ini sekarang, sebelum fakta datang sebagai algojo yang tak mengenal kompromi.
Baca Juga: Limpasan Sungai Keruh Belum Surut, Desa Adisana Brebes Masih Dihantui Banjir Susulan
Kita seakan lupa bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya menunggu untuk diulang dengan nama dan lokasi yang berbeda. Aceh seharusnya menjadi pengingat sunyi tentang bagaimana peringatan diperlakukan sebagai pengganggu stabilitas. Jauh sebelum air meluap dan tanah runtuh, suara-suara dari WALHI, Greenpeace, dan komunitas warga telah berbicara tentang hutan yang menipis, tambang yang menggerogoti tubuh bumi, dan daya dukung alam yang kian dipaksa bekerja melampaui batasnya. Namun, sebagian pengambil keputusan memilih keyakinan yang lebih menenangkan, semuanya masih bisa dikendalikan, semuanya masih dapat ditangani. Narasi itu terdengar lebih ramah bagi grafik pendapatan negara dan daerah yang terus dikejar, seolah angka-angka fiskal lebih layak dilindungi daripada keberlanjutan kehidupan itu sendiri. Alam pun direduksi menjadi variabel ekonomi, bukan fondasi eksistensi. Hingga akhirnya realita datang tanpa basa-basi, membuktikan bahwa alam tidak pernah tunduk pada logika target, dan bencana tidak pernah mau bernegosiasi dengan optimisme yang miskin fakta.***



