Peran Parenting Orang Tua terhadap Kesiapan Anak di Ruang Digital

Ruang digital jadi bagian hidup anak. Parenting bijak penting untuk membekali literasi, karakter, dan kesiapan agar anak aman dan mandiri online.
Penulis: Mughni Ma'mun
Praktisi Pendidikan
Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan ruang baru bagi anak untuk belajar, berinteraksi, dan membangun identitas diri. Ruang digital kini tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi bagian dari keseharian anak-anak. Melalui gawai dan akses internet, anak dapat belajar, berkomunikasi, bermain, bahkan membangun identitas diri.
Namun, di balik kemudahan dan peluang tersebut, ruang digital juga menyimpan tantangan serius yang menuntut peran aktif dan bijaksana dari orang tua. Dalam konteks inilah, parenting memiliki peran strategis dalam menyiapkan anak agar mampu menghadapi ruang digital secara sehat dan bertanggung jawab.
Fenomena yang banyak ditemui di masyarakat saat ini adalah pola asuh orang tua yang cenderung over protektif di dunia nyata, tetapi justru longgar dan kurang waspada di dunia digital. Anak dibatasi untuk bermain di luar rumah, dilarang bergaul terlalu jauh, dan selalu diawasi secara fisik. Orang tua merasa aman ketika anak berada di rumah.
Baca Juga: Berorganisasi dengan Manhaj yang Teguh, Bertoleransi dengan Sikap Dewasa
Namun, rasa aman itu sering kali semu. Ketika anak memegang gawai dan terhubung dengan internet, sesungguhnya ia sedang berada di ruang yang jauh lebih luas, bebas, dan minim pengawasan. Ironisnya, pada fase ini, banyak orang tua justru melepas kontrol dan menganggap anak “aman” selama berada di dalam rumah.
Padahal, ruang digital bukanlah ruang tanpa risiko. Di dalamnya terdapat beragam konten yang tidak semuanya ramah anak. Informasi yang keliru, hoaks, kekerasan verbal maupun visual, pornografi, perundungan siber, hingga gaya hidup instan dan konsumtif dapat dengan mudah diakses.
Anak yang belum memiliki kematangan berpikir berisiko menelan mentah-mentah apa yang dilihatnya, lalu menjadikannya sebagai rujukan sikap dan perilaku. Tanpa pendampingan yang memadai, ruang digital dapat menjadi ruang yang membentuk karakter anak secara keliru.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada kesiapan anak dan pola asuh orang tua. Sebelum anak berselancar di ruang digital, seharusnya ia telah siap dan matang di dunia nyata. Kesiapan ini tidak dapat diukur dari usia semata, melainkan dari kemampuan literasi dan kedewasaan berpikir anak.
Anak perlu memiliki kemampuan membaca yang baik, memahami makna informasi, serta mampu menyikapi apa yang dilihat dan didengar dengan nalar kritis. Literasi digital sejatinya bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan memahami, memilah, dan menyikapi informasi secara bijak.
Di sinilah peran parenting orang tua menjadi sangat krusial. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak. Nilai, kebiasaan, dan cara pandang anak terhadap dunia, termasuk dunia digital, banyak dibentuk di lingkungan keluarga.
Orang tua perlu menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kontrol diri sejak dini. Nilai-nilai inilah yang kelak menjadi “filter internal” bagi anak ketika berhadapan dengan konten digital yang beragam dan tidak selalu sesuai dengan norma sosial maupun budaya.
Selain itu, orang tua perlu mengubah cara pandang terhadap pengawasan. Pengawasan bukan berarti membatasi secara berlebihan atau melarang total akses digital, melainkan mendampingi dan berdialog.
Anak perlu diajak berdiskusi tentang apa yang ia lihat di internet, konten apa yang boleh dan tidak boleh diakses, serta konsekuensi dari setiap tindakan di ruang digital. Dengan komunikasi yang terbuka, anak tidak hanya merasa diawasi, tetapi juga dihargai dan dipercaya.
Kesiapan anak di ruang digital juga sangat bergantung pada kematangan emosional. Anak yang belum mampu mengelola emosi dengan baik akan lebih rentan terhadap pengaruh negatif, seperti komentar jahat, perbandingan sosial, atau tekanan dari lingkungan maya.
Oleh karena itu, penguatan karakter di dunia nyata menjadi fondasi penting sebelum anak terjun lebih jauh ke dunia digital. Anak perlu belajar menghadapi konflik, menerima perbedaan, dan mengelola kegagalan dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman-pengalaman inilah yang membentuk ketahanan mental anak.
Analogi yang tepat untuk menggambarkan kesiapan anak di ruang digital adalah seperti orang tua yang membolehkan anaknya merantau. Anak tidak dilepas begitu saja tanpa bekal. Orang tua memastikan anak telah mampu mandiri, mengurus dirinya sendiri, memahami norma sosial, serta bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Merantau bukan sekadar berpindah tempat, tetapi menghadapi dunia yang lebih luas dengan segala risikonya. Demikian pula dengan ruang digital. Anak yang “dilepas” tanpa kesiapan hanya akan menjadi penonton pasif, bahkan korban dari derasnya arus informasi.
Sayangnya, masih banyak orang tua yang menganggap literasi digital cukup dengan memberikan batasan waktu penggunaan gawai. Padahal, pembatasan waktu tanpa pembekalan nilai dan pemahaman hanya akan melahirkan anak yang patuh secara semu, tetapi tidak mandiri secara berpikir.
Ketika pengawasan hilang, anak berpotensi mengakses apa pun tanpa kontrol diri. Oleh karena itu, tujuan utama parenting digital bukanlah sekadar mengontrol, melainkan membentuk kemandirian dan tanggung jawab anak.
Tantangan parenting di era digital memang tidak mudah. Orang tua dituntut untuk terus belajar, mengikuti perkembangan teknologi, dan memahami dunia yang sedang dihadapi anak-anaknya.
Ketertinggalan orang tua dalam memahami ruang digital sering kali menjadi celah yang membuat anak berjalan sendiri tanpa arah. Maka, peningkatan literasi digital orang tua juga menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
Pada akhirnya, peran parenting orang tua terhadap kesiapan anak di ruang digital adalah tentang keseimbangan. Tidak terlalu mengekang di dunia nyata, namun juga tidak abai di dunia digital.
Anak perlu diberi kepercayaan, tetapi juga dibekali kesiapan. Dengan pola asuh yang tepat, ruang digital tidak lagi menjadi ancaman, melainkan sarana pembelajaran yang memperkaya pengalaman anak. Ketika anak siap secara literasi, karakter, dan emosi di dunia nyata, maka ia akan lebih mampu berdiri tegak dan bijak saat menjelajah ruang digital yang tanpa batas. **