Legenda Desa Cipaku Purbalingga, Jejak Sunyi Galuh Purba di Batu Tulis (Seri 1)

Desa Cipaku di Purbalingga menyimpan jejak Kerajaan Galuh Purba, lewat nama Sunda Kuno dan Prasasti Cipaku abad ke-5 M.
PURBALINGGA, puskapik.com - Di barat Kabupaten Purbalingga, terdapat sebuah desa bernama Cipaku. Bagi sebagian orang, Cipaku mungkin hanyalah nama kampung biasa.
Namun jika ditelusuri lebih jauh, nama ini menyimpan jejak sejarah panjang yang berkelindan dengan peradaban awal Nusantara. Kerajaan Galuh Purba, salah satu entitas politik tertua di Tatar Sunda.
Sejarah Indonesia selama ini lebih sering dibaca dari pusat-pusat kekuasaan besar seperti Tarumanegara, Sriwijaya, atau Majapahit.
Baca Juga: Weton Rabu Wage, Hari Ini Akan Dapat Keberuntungan
Padahal, denyut peradaban kerap bertahan justru di wilayah pinggiran desa-desa yang kini tampak sunyi, tetapi dahulu menopang kehidupan politik, ekonomi, dan budaya kerajaan.
Sejarawan Taufik Abdullah pernah mengingatkan bahwa sejarah Indonesia tidak pernah hanya milik pusat kekuasaan.
Ia hidup dan bertahan di wilayah lokal, tempat masyarakat membentuk ingatan kolektifnya sendiri. Cipaku adalah salah satu contoh ingatan itu.
Nama Cipaku berasal dari bahasa Sunda Kuno. Awalan “Ci” merujuk pada air atau sungai, sementara “paku” dimaknai sebagai kuat, kokoh, atau penyangga.
Baca Juga: Naik Dokar, ASN DPUPR Kota Tegal Diantar ke Kantor Baru
Dalam tradisi Sunda, penamaan wilayah hampir selalu berkaitan dengan unsur alam terutama air yang menjadi pusat kehidupan sosial dan ekonomi.
Sejarawan Sunda Edi S. Ekadjati menyebut nama tempat sebagai arsip sejarah paling awal, yang sering kali lebih tua daripada naskah dan prasasti.
Fakta bahwa Cipaku tidak berakar pada bahasa Jawa Mataraman mengisyaratkan bahwa wilayah ini telah dihuni dan dinamai jauh sebelum ekspansi budaya Jawa ke Jawa Tengah bagian barat.
Baca Juga: Asik! Hari Jadi Pemalang Bakal Diramaikan Artis Nasional, Ini Bocorannya
Museum Lokastithi Giri Badra
Jejak sejarah Cipaku tidak hanya tersimpan dalam nama, tetapi juga terpatri pada sebuah batu besar yang oleh warga setempat disebut Watu Tulis di Museum Lokastithi Giri Badra.
Batu itu terletak di Dukuh Pangebonan, Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, di bawah naungan pohon beringin tua.
Pada permukaannya tergores sebaris tulisan beraksara Pallawa yang kini sebagian besar telah terkikis oleh waktu. Dari sisa aksara yang masih terbaca, arkeolog Drs.
Kusen dari Universitas Gadjah Mada menafsirkan nama “Indra Wardhana Wikrama Deva” satu-satunya teks yang berhasil diidentifikasi hingga kini.
Prasasti yang dikenal sebagai Prasasti Cipaku itu diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi dan mulai diteliti sejak 1983.
Saat ini, artefak tersebut telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah.
Namun penelitian lanjutan masih minim. Hingga kini belum diketahui dengan pasti siapa Indra Wardhana Wikrama Deva, berasal dari kerajaan apa, dan mengapa namanya terukir di wilayah Purbalingga. **



