Update Gunung Slamet Terkini, 9 Kali Gempa Low Frequency

Minggu, 10 Mei 2026 | 10.13
Gunung Slamet terlihat jelas dari Pos Pengamatan Gunung Slamet di Desa Gambuan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Minggu 10 Mei 2026. (Dok.MAGMA Indonesia)
Gunung Slamet terlihat jelas dari Pos Pengamatan Gunung Slamet di Desa Gambuan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Minggu 10 Mei 2026. (Dok.MAGMA Indonesia)

Gunung Slamet terpantau mengalami 9 kali gempa low frequency dalam 24 jam, status masih Level II waspada, warga diminta menjauhi radius 3 km.

SLAWI, puskapik.com - Update kondisi Gunung Slamet terkini selama 24 jam terakhir pada Minggu, 10 Mei 2026. Gunung Slamet yang berstatus Level II waspada terjadi 9 kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 3 mm, dan lama gempa 10-20 detik.

Berdasarkan laman MAGMA Indonesia hasil laporan dari Pos Pengamatan Gunung Slamet di Desa Gambuan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang yang ditulis oleh Albertus Galih Prasida Kastawa AMd pada 9 Mei 2026, bahwa secara klimatologi cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga kencang ke arah utara dan barat. Suhu udara sekitar 21.3-27.4°C. Kelembaban 74-94%.

Baca Juga: Tim Verifikasi Itjenad Tinjau Hasil Pembangunan Jembatan Gantung Garuda di Suradadi Tegal

Pengamatan visual gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah nihil.

Pengamatan kegempaan terjadi 9 kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 3 mm, dan lama gempa 10-20 detik. Selain itu, 1 kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 mm, dominan 0.5 mm.

Disimpulkan, Tingkat Aktivitas Gunungapi Slamet Level II (Waspada), dan masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah puncak Gunung Slamet.

Baca Juga: PKB Kabupaten Tegal Beri Bantuan Sepeda pada Dua Siswa yang Jalan Kaki 8 Km ke Sekolah Viral di Medsos

Pantauan Gunung Slamet dari wilayah Slawi, Kabupaten Tegal, puncak Gunung Slamet tertutup awan, sehingga tidak terlihat jelas.

Gunung Slamet, yang menjulang gagah di antara Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Tegal, Pemalang, dan Brebes, bukan sekadar bentang alam yang menawan.

Ia adalah “atap Jawa Tengah”, gunung tertinggi di provinsi ini sekaligus gunung berapi tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru di Jawa Timur.

Dengan ketinggian mencapai 3.428 meter di atas permukaan laut, Slamet menjadi simbol keagungan alam dan kebanggaan masyarakat Jawa Tengah.

Nama “Slamet” berasal dari kata “selamat”, yang oleh masyarakat sekitar dipercaya membawa makna keselamatan dan ketenangan.

Kepercayaan ini sudah hidup sejak lama, sehingga warga sekitar memandang Gunung Slamet sebagai tempat yang sakral. Di lerengnya, mereka kerap menggelar tradisi seperti sedekah bumi atau ruwatan desa sebagai wujud syukur dan doa agar terhindar dari bencana. **

Artikel Terkait