Lewat Program Gas Rolas, 628 Anak Brebes Kembali ke Sekolah

Selasa, 3 Februari 2026 | 15.33
Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma
Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma

Pemerintah Brebes melalui Gas Rolas berhasil mengembalikan 628 anak putus sekolah ke bangku pendidikan, wujud nyata upaya tingkatkan IPM dan kesempatan belajar.

BREBES, puskapik.com - Pemerintah Kabupaten Brebes mencatat capaian penting dalam upaya menekan angka putus sekolah. Melalui program Gerakan Anak Sekolah 12 Tahun (Gas Rolas), sebanyak 628 anak yang sebelumnya berhenti sekolah kini kembali mengenyam pendidikan pada tahun ajaran 2025.

Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, menegaskan bahwa pendidikan adalah prioritas utama dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

"Pendidikan adalah fondasi utama. Melalui Gas Rolas, kita memastikan 628 anak ini kembali memiliki kesempatan untuk meraih masa depan. Saya tidak ingin ada anak di Brebes yang berhenti bermimpi hanya karena kendala ekonomi," ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Baca Juga: Jalan Sirampog–Bumijawa Longsor, Jalur Vital Terancam Putus

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Brebes, Sutaryono, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan penyisiran hingga ke desa-desa untuk menemukan anak-anak yang putus sekolah.

"Sebanyak 628 anak yang terdata ini sudah kami pastikan kembali ke sekolah masing-masing, baik di jalur formal maupun kesetaraan. Fokus kami adalah memastikan mereka tidak hanya masuk sekolah, tetapi bertahan hingga lulus 12 tahun," katanya.

Ia menambahkan, pendampingan dan validasi data dilakukan secara berkala untuk meminimalkan munculnya angka putus sekolah baru. Menurutnya, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat.

Baca Juga: Kasus Pelajar SMP Tewas di Tegal, Polisi : Masih Kami Selidiki

"Kami instruksikan seluruh jajaran di bawah untuk proaktif. Jika ada kendala di lapangan, segera tangani agar anak-anak kita tetap bisa belajar dengan nyaman dan fokus," tegasnya.

Di balik angka tersebut, tersimpan kisah nyata yang menyentuh. Salah satunya dialami Rizki (14), seorang anak dari Kecamatan Bantarkawung yang sempat berhenti sekolah karena harus membantu orang tuanya bekerja di sawah. Kini, ia kembali mengenakan seragam putih abu-abu dengan semangat baru.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait