Pasar Slumpring, Kuliner di Kaki Gunung Slamet Jadi Favorit Artis

Rabu, 24 Desember 2025 | 17.14

SLAWI, puskapik.com - Sejak 2016, Pasar Slumpring di kaki Gunung Slamet Jawa Tengah tepatnya di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, telah menjadi perhatian masyarakat luas. Tak hanya ma...

SLAWI, puskapik.com - Sejak 2016, Pasar Slumpring di kaki Gunung Slamet Jawa Tengah tepatnya di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, telah menjadi perhatian masyarakat luas. Tak hanya masyarakat lokal, tapi juga para artis ibu kota yang penasaran dengan Pasar Slumpring. Pasar Slumpring jadi icon baru di Kabupaten Tegal, karena ciri khasnya yang menjual makanan dan jajanan tradisional, seperti nnasi tiwul, nasi jagung, kupat tahu, pecel, hingga camilan seperti klepon, kue putu, cenil, dan minuman seperti teh poci, wedang tape, dan bandrek. Makanan yang disajikan sudah sulit diperoleh di pasaran. Bagi orang tua menjadi nostalia, bagi anak muda sensasi baru. Di bawah rerimbunan pohon bambu, Pasar Slumpring menghadirkan suasana baru yang asri dan adem. Bahkan, bagi Gen-Z jadi tempat nongkrong yang Instagramable. Bahkan, beberapa artis nasional sudah hadir di Pasar Slumpring, diantaranya Tri Utami, Siti KDI, Dedy Irama (adik Rhoma Irama), Anisa Bahar, dan Tiwi Jejak Petualang. Mantan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Sandiaga Uno juga telah menginjakkan kakinya di Pasar Slumpring. Pasar ini menjadi satu lokasi dengan Tuk Mudal, mata air jernih dari lereng Gunung Slamet. Namun, Pasar Slumpring hanya buka setiap akhir pekan dan hari libur. Gagasan ini bermula dari Abdul Khayyi, yang dulu menjadi Kepala Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa yang melihat potensi wisata desa bukan hanya sebagai destinasi, tetapi juga sebagai gerakan ekonomi mandiri. "Jadi di sini yang berjualan itu harus warga desa dan Itu menjadi syarat utama sejak awal digagasnya Wisata Desa Slumpring," ujar Abdul Khayyi. Kini, sekitar 60 pedagang aktif berjualan di Pasar Slumpring ini. Tidak ada makanan instan di pasar ini. Uniknya, untuk menikmati beragam kuliner tradisional Pasar Slumpring, pengunjung tidak menggunakan uang tunai. Pengunjung harus menggunakan uang koin bambu. Setiap 1 koin bambu seharga Rp2000-Rp2.500. Koin bambu bukan sekadar alat tukar, tapi bagian dari pengalaman budaya. Khayyi menegaskan bahwa pasar ini tidak mencari keuntungan besar. Tiket masuk hanya Rp5.000. Parkir motor pengunjung cukup membayar Rp5.000, dan mobil Rp10.000. Terkait jam operasional, Ia pun menjelaskan Pasar Slumpring hanya buka sampai pukul 11.00 WIB agar tak mengganggu keseharian warga desa. Ini bentuk penghormatan pada ritme hidup lokal kelestarian lingkungan. Namun di balik cerita indah ini, ada sebuah tantangan nyata. Fasilitas parkir masih sangat terbatas. Sempitnya lahan wisata membuat pengunjung harus memarkir kendaraan di tempat yang tidak ideal. Abdul Khayyi mengatakan, pengelola wisata Slumpring pun berharap Pemerintah Kabupaten Tegal lebih aktif mendampingi, bukan sekadar memberi bantuan, tetapi menjadi mitra sejajar dalam membangun desa. "Kalau desa diberi ruang dan kepercayaan, kami bisa berdiri di kaki sendiri," ungkap Khayyi. Pasar Slumpring telah membuktikan bahwa desa di kaki Gunung Slamet bisa menjadi pusat kreativitas, ekonomi, dan pelestarian budaya, asal diberi kesempatan, didukung infrastruktur yang memadai. Di tengah arus modernisasi yang kian kuat sehingga mampu menggerus akar tradisi, Pasar Slumpring hadir sebagai penyeimbang. "Kekuatan bangsa ini tumbuh dari desa-desa, dari keramahan warga, dari kesederhanaan yang jujur, dan dari tangan-tangan ibu yang meracik rasa dengan cinta," kata Khayyi. **

Artikel Terkait