Jejak Leluhur,  Prasasti Batu Tulis Cipaku Purbalingga Masih Tersimpan Misteri

Rabu, 7 Januari 2026 | 15.53
Jejak Leluhur,  Prasasti Batu Tulis Cipaku Purbalingga Masih Tersimpan Misteri

Prasasti Batu Tulis Cipaku Purbalingg ditengarai adalah nama raja atau bangsawan berasal dari bangsawan Kerajaan Tarumanegara

PURBALINGGA, puskapik.com - "Mengko nek wis titi wancine bakale kebuka" kalimat yang mengandung misteri itu disampaikan Pak Yadi selaku pengelola Prasasti Batu Tulis di Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Sabtu 3 Januari 2026.

Yang artinya nanti kalau sudah tiba saatnya akan terungkap tentang sejarah leluhur tentang asal usul atau jejak perjalanan sejarah peradaban Jayanya Nusantara. 

Saat itu, rombongan dari kawan - kawan Puskapik.com menyempatkan singgah ke tempat tersebut sebagai bentuk menghormati dan melestarikan warisan para leluhur. 

Baca Juga: Banjir Pekalongan Belum Teratasi, Sekolah Terendam dan Warga Mengungsi

Berbagai benda cagar budaya, seperti arca, alu dan lesung yang terbuat dari batu ditata rapi. 

Lingkungannya sangat bersih dan sejuk karena kelilingi pohon besar. Suasana terasa nyaman dan tentram. 

Ketika perjalanan kami mengelilingi area situs. Ada yang sebaris kalimat dalam Aksara Pallawa tergores pada batu sebesar gajah di bawah pohon beringin. 

Menurut keterangan Pak Yadi,dari hasil penelitian Arkeolog Universitas Gajah Mada menafsirkan goresan aksara itu bunyinya Indra Wardhana Wikrama Deva.

Sayang, rangkaian aksara itu sudah terkikis dan sudah agak sulit dibaca.

Benda Cagar Budaya

 "Prasasti ini mulai diteliti sekitar 1983 dan sudah ditetapkan menjadi Benda Cagar Budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah," katanya. 

Namun, hingga kini penelitian lanjutan mengenai Prasasti Cipaku masih minim sehingga belum jelas siapakah Indra Wardhana Wikrama Deva, berasal dari kerajaan apa, dan kenapa ada di Purbalingga ? Hingga kini Prasasti Cipaku masih menyimpan misteri.

Baca Juga: Fraksi PDIP Tegal Tak Sepakat Pilkada Lewat DPRD, Pemicu Kemarahan Rakyat

Menurut perkiraan para arkeolog, prasasti itu diduga berasal dari abad ke 5-7 Masehi atau satu era dengan Prasasti Ciareteun. 

Nama yang tergores pada Prasasti Cipaku ditengarai adalah nama raja atau bangsawan pada masa itu. 

Ada dugaan berasal dari bangsawan Kerajaan Tarumanegara yang berpusat di Jawa Barat karena ada kemiripan dengan Prasasti Ciaruteun. 

Baik Prasasti Cipaku maupun Prasasti Ciaruteun ditulis dalam bentuk seloka dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Lagi pula, kedua prasasti juga ditaksir dibuat pada masa yang sama.

Raja Purnawarman adalah raja yang memimpin masa keemasan Kerajaan Tarumanegara. 

Jadi, apakah Cipaku dan Wilayah Purbalingga waktu itu masuk wilayah kekuasaan Sang Purnawarman? Bisa jadi. 

Namun, ada pula dugaan bahwa Cipaku dulunya merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Galuh Purba dengan Indra Wardana Wi krama Deva sebagai salah satu rajanya. Ini bisa benar juga. 

Di tempat itu, Pak Yadi juga menunjukkan satu batu yang dinamai Ciung Wanara. 

Ciung Wanara adalah legenda Sunda terkenal tentang putra mahkota Kerajaan Galuh yang dibuang dan dibesarkan kembali, kemudian kembali untuk merebut takhta dan menciptakan keadilan melalui duel sabung ayam, yang juga menjelaskan asal-usul Sungai Pemali dan hubungan Sunda-Jawa.

Cerita ini menggambarkan persaingan politik, intrik, dan penyelesaian konflik yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Raja Barma Wijaya, Dewi Pangrenyep, dan Hariang Banga, diakhiri dengan pembagian kekuasaan antara Sunda (Ciung Wanara) dan Jawa (Hariang Banga) di timur Sungai Pemali. 

Kisah Ciung Wanara mengajarkan tentang moralitas, kepemimpinan bijaksana, keharmonisan budaya, dan keadilan yang patut diteladani generasi penerus pada era sekarang dan masa datang ketika menjadi pemimpin.

 Yakni, menekankan akan pentingnya kejujuran, keberanian membela kebenaran, mengasihi sesama, serta menjadi pemimpin yang adil demi kemakmuran rakyat.***

Artikel Terkait