Situs Watu Lumpang Cikal Bakal Peralihan ke Peradaban Hindu

Jumat, 19 September 2025 | 23.19
Situs Watu Lumpang Cikal Bakal Peralihan ke Peradaban Hindu

SLAWI, puskapik.com - Situs Watu Lumpang yang banyak ditemukan di Kabupaten Tegal merupakan cikal bakal peralihan dari era purbakala ke peradaban Hindu. Situs yang berbentuk batu yang berongga di teng...

SLAWI, puskapik.com - Situs Watu Lumpang yang banyak ditemukan di Kabupaten Tegal merupakan cikal bakal peralihan dari era purbakala ke peradaban Hindu. Situs yang berbentuk batu yang berongga di tengahnya itu, sebagai tempat persembahan bagi para leluhur pada zaman itu. Watu lumpang yang merupakan peninggalan zaman megalitik berfungsi mulai dari alat prasejarah untuk menumbuk padi, biji-bijian, dan bahan lain, hingga alat untuk menempa dan membersihkan senjata pusaka. Selain fungsi praktis tersebut, watu lumpang juga berfungsi sebagai punden yang memiliki nilai sejarah, tempat pemujaan arwah nenek moyang, dan sarana pemujaan. "Watu lumpang pada zaman dulu digunakan untuk menampung air hujan pertama. Air itu digunakan untuk pertanian atau obat bagi warga yang sakit," kata Anggota Tim Pendataan Cagar Budaya Dikbud Kabupaten Tegal, Slamet Haryanto, Kamis 18 September 2025. Pria yang akrab disapa Slamet Gelang itu, menilai adanya watu lumpang bisa dipastikan di lokasi tersebut terdapat sekelompok manusia. Mereka membuat komunitas peradaban walaupun dalam jumlah kecil. Komunitas-komunitas kecil itu yang nantinya bisa menjadi sebuah kerajaan. Bahkan, di Kabupaten Tegal hampir setiap desa ditemukan watu lumpang. Watu lumpang banyak ditemukan di Kabupaten Tegal, diantaranya di Bojong, Bumijawa, Pagerbarang, Lebaksiu, Penarukan Adiwerna. Saat ini sudah banyak yang pecah karena kurangnya pemahaman tentang benda-benda peninggalan, dan melestarikan budaya serta sejarah. "Watu lumpang juga pertanda cikal bakal peralihan ke peradaban Hindu," ujar Slamet. Dijelaskan, watu lumpang yang berkembang menjadi zaman kerajaan disebut Yoni. Yoni lebih modern karena telah terdapat ornamen yang dipahat. Setelah itu, dinamakan lingga atau candi yang juga banyak ditemukan di Kabupaten Tegal. Saat ditanyakan menemukan watu lumpang di komplek Pemkab Tegal, Slamet Gelang menjelaskan, di komplek Pemkab Tegal sebelum menjadi seperti sekarang ini ada sebuah gundukan tanah. Di lokasi itulah ditemukan watu lumpang. Namun, karena adanya pembangunan komplek perkantoran Pemkab Tegal, watu lumpang dibuang di tepi Sungai Kembang dekat Perumahan Kartini Slawi. "Kami menemukan itu di tepi Sungai Kembang, dan pada pemerintahan Bupati Tegal Agus Riyanto dipindahkan di Rumdin," terangnya. Watu lumpang juga ditemui di Yamansari, Lebaksiu di Tuk Ningsih. Pada saat itu, tidak hanya watu lumpang, tapi juga banyak peninggalan peradaban Hindu, termasuk patung Siwa. Namun, hingga kini barang-barang peninggalan tersebut tidak diketahui keberadaannya. "Kalau watu lumpang di Yamansari dihancurkan warga karena dipergunakan untuk meminta sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat Islam," ujar Slamet Gelang. Watu lumpang juga ditemukan di tengah Sungai Gung yang sampai saat ini masih belum dipindahkan. **

Artikel Terkait