Warga 7 Desa di Adiwerna Tegal Tidur Tak Nyenyak, Khawatir Sungai Jembatan Meluap

Warga tujuh desa di Adiwerna, Tegal, terus dihantui banjir luapan Sungai Jembangan akibat sedimentasi, penyempitan sungai, dan padatnya bangunan bantaran.
SLAWI, puskapik.com - Sejak lima tahun terakhir, warga di 7 desa Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal tak pernah tidur nyenyak saat musim hujan tiba. Mereka dihantui meluapnya Sungai Jembangan yang melintasi 7 desa tersebut. Sejak musim hujan tahun ini, Sungai Jembangan sudah puluhan kali meluap.
Sungai Jembangan jadi momok menakutkan bagi warga 7 desa di Adiwerna saat musim hujan. Tujuh desa itu, yakni Tembok Kidul, Tembok Banjaran, Tembok Lor, Ujungrusi, Adiwerna, Pesarean dan Lemari Duwur. Desa-desa tersebut dilalui Sungai Jembangan yang merupakan aliran dari Sungai Gung. Tahun 2026, paling parah di Desa Adiwerna dan Pesarean. Ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.
Kekhawatiran warga mendasari sejak setahun terakhir sudah puluhan kali terjadi banjir. Hal itu mengingat sedimentasi aliran Sungai Jembangan masih tinggi. Bahkan, antara aliran sungai dengan pemukiman warga, lebih tinggi sungainya. Tak hanya itu, bangunan di bantaran Sungai Jembangan makin banyak. Kondisi itu membuat aliran Sungai Jembangan menyempit. Ditambah lagi dengan prilaku masyarakat yang membuang sampah di sungai.
"Paling parah di Pesarean. Dari mulai gerbang desa depan RSI Muhammadiyah Singkil ke Utara, kalau banjir sampai setinggi pinggang orang dewasa," kata seorang warga Pesarean, Ade Widiarto, Senin 2 Februari 2026.
Pria yang lahir di Pesarean itu mengaku banjir terjadi sejak lima tahun terakhir. Hal itu mengingat bertambahnya bangunan di bantaran Sungai Jembangan. Sedimentasi dan prilaku masyarakat membuang sampah di sungai memperparah terjadi banjir. Kondisi itu membuat Sungai Jembangan yang dulu selebar 6 meter, kini hanya 3 meter.
"Normalisasi tidak bisa menggunakan alat berat, karena kanan kiri sungai rapat dengan bangunan," ujar Ade.
Ade mengaku kepedulian warga cukup tinggi, sehingga rela kerja bakti membersihkan sedimentasi Sungai Jembangan di Pesarean. Namun, karena keterbatasan peralatan dan dilakukan secara manual, sehingga hanya sedikit bagian sungai yang dibersihkan. Upaya itu juga mengalami kendala, karena warga bingung mau buang tanah hasil pengerukan.
"Tidak ada lahan untuk buang tanah sedimentasi. Semua rapat bangunan rumah," katanya.


