Kisah Perjalanan Spiritual Bung Karno di Pesisir Pantai Selatan Karanghawu

Jejak spiritual Bung Karno di Pelabuhan Ratu: dari meditasi Karanghawu hingga kamar 308, lekat dengan legenda Nyi Roro Kidul dan simbol kekuatan bangsa.
PUSKAPIK.COM - "Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Pernyataan dari Ir. Soekarno (Bung Karno), presiden pertama Republik Indonesia itu menekankan kekuatan luar biasa bagi pemuda yang bersatu, berdedikasi, dan memiliki tekad kuat untuk menciptakan perubahan besar bagi bangsa dan dunia, bukan sekadar jumlah, tetapi kualitas dan semangat juang.
Simbolisme angka sepuluh bukan angka mutlak, melainkan simbol untuk menunjukkan bahwa sekelompok kecil pemuda yang berkualitas bisa menciptakan dampak besar, seperti yang dicontohkan oleh para pemuda Sumpah Pemuda yang menyatukan bangsa.
Pemuda membawa energi, keberanian, dan inovasi, sementara generasi tua memberikan pengalaman dan kearifan, menciptakan sinergi untuk kemajuan berkelanjutan. Ini adalah seruan agar pemuda tidak ragu, tetapi berani memulai dari langkah kecil, bergerak, dan berkarya untuk mewujudkan perubahan nyata.
Baca Juga: Asal Usul Nama Brebes, Dari Bere dan Beseh Hingga Gunung Baribis
Kisah tentang Bung Karno memang selalu menarik untuk diulas. Nama besarnya tak hanya tentang perjuangan kemerdekaan bangsa, dia juga dikenal dari sisi spiritualnya.
Bahkan, semboyan "Jas Merah" (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah) terkenal dari pidato Presiden Soekarno pada HUT RI ke-21, 17 Agustus 1966.
Disampaikan untuk mengingatkan bangsa Indonesia agar tidak lupa sejarah perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, menjadikannya pijakan untuk membangun masa depan yang lebih baik, karena bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarahnya sendiri. Pidato ini menekankan bahwa sejarah adalah fondasi agar bangsa tidak kehilangan arah dan menjadi rapuh.
Jejak perjalanan spiritual Sang Proklamator, khususnya di wilayah Jawa sangatlah komplet, baik dari ujung timur (wetan) hingga ujung barat (kulon). Salah satunya di pesisir Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, khususnya di Pantai Karanghawu.
Baca Juga: Weton Hari Ini 14 Januari 2026, Karier Pemilik Rabu Legi Kerap Dipecat
Di tempat itu terdapat batu kursi dan tujuh sumur di karang dengan hantaman ombak besar. Batu kursi diyakini sebagai singgasana Nyi Roro Kidul, tempat Soekarno bermeditasi dan sumur tujuh adalah cekungan batu karang yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan dan jodoh.
Dalam beberapa narasi sejarah, Bung Karno dikenal kerap mengunjungi Pelabuhan Ratu, salah satu tempat legenda Nyi Roro Kidul. Kunjungan bukan hanya terjadi saat beliau menjabat sebagai presiden, tetapi juga jauh sebelumnya, saat keluar dari penjara kolonial.
Pada 1 Maret 1951, Bung Karno dalam pidatonya di depan Pesanggrahan Palabuhanratu (sekarang Gedung Sekretariat Daerah Kabupaten Sukabumi) menyebutkan bahwa 18 tahun sebelumnya (1933) Bung Karno sempat tinggal di pesanggrahan tersebut untuk menyembuhkan penyakit.
Pada tahun 1930, Bung Karno sempat bertapa di Palabuhanratu selama tiga bulan di bawah pohon yang kini berada di tepi kolam renang Hotel Samudera Beach (Sekarang Grand Inna Samudera Bech).
Selain di hotel tersebut, ada juga lokasi pertapaan Bung Karno di Pantai Karang Hawu, sebelah barat Hotel Samudera Beach. Di sana terdapat Gunung Winarum dengan makam keramat Embah Rembang. Pasca Dekrit Presiden tahun 1959, Bung Karno kembali menyepi di Pelabuhan Ratu.
Banyak yang percaya bahwa meskipun jasadnya, Bung Karno telah tiada, jejak peninggalannya di Pelabuhan Ratu, seperti Pesanggrahan Tenjoresmi dan Hotel Samudera Beach menunjukkan hubungan dengan Nyi Roro Kidul. Kamar nomor 308 di hotel tersebut dipercaya sebagai tempat singgah Nyi Roro Kidul dan banyak dikunjungi para peziarah.



