Legenda Widuri Pemalang, Kisah Nyai Tanjang Mendapatkan Keris
Rabu, 17 Desember 2025 | 21.16

PEMALANG, puskapik.com - Kelurahan Widuri, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang menyimpan banyak legenda menarik. Penamaan Kelurahan Widuri tak lepas dari sosok perempuan Nyai Tanjang atau lebih dik...
PEMALANG, puskapik.com - Kelurahan Widuri, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang menyimpan banyak legenda menarik. Penamaan Kelurahan Widuri tak lepas dari sosok perempuan Nyai Tanjang atau lebih dikenal dengan Nyai Widuri.
Kisah Nyai Widuri yang mendapatkan Keris Simongklang dari petinggi Kerajaan Mataram, Pangeran Purbaya.
Dikisahkan di channel YouTube Ngromyah Medeni (Ngromed), kisah Nyai Tanjang hidup bersama suaminya di pesisir pantai Laut Jawa pada abad 15.
Pada waktu itu, pesisir utara Jawa Tengah masih banyak terdapat hutan dan rawa-rawa, sehingga warga yang tinggal pinggiran daerah itu pun masih sedikit.
Kisah ini bermula saat Kerajaan Mataram hendak menyerang Batavia. Pangeran Purbaya yang menjadi pemimpin pasukan ratusan orang, ditugaskan untuk menjaga wilayah Kabupaten Pemalang.
Punggawa Kerajaaan Mataram itu, mengemban tugas menumpas pemberontakan yang dipimpin oleh Salingsingan di Cirebon. Salingsingan ingin menguasai Tanah Jawa dari Mataram.
Pasukan Pangeran Purbaya hanya sedikit, karena banyak yang tidak mau berperang dengan Salingsingan. Pasukan Mataram itu ingin menyusul pasukan Mataram lainnya ke Batavia.
Akhirnya, Pangeran Purbaya dengan pasukannya bertempur dengan pasukan Salingsing yang jumlahnya lebih banyak. Pada akhirnya, pertempuran berlangsung dan pasukan Pangeran Purbaya kalah.
Dalam pelariannya dikejar pasukan Salingsingan, Pangeran Purbaya dengan luka-luka melarikan diri ke wilayah pesisir pantai Pemalang. Pangeran Purbaya bertemu dengan Nyai Tanjang yang tengah berada di kebun semangka.
Melihat Pangeran Purbaya yang mengalami luka parah, Nyai Tanjang sempat ketakutan. Namun, Pangeran Purbaya meyakinkan bahwa dirinya merupakan punggawa kerajaan Mataram yang sedang dikejar kawanan pemberontak.
Nyai Tanjang yang iba, akhirnya menyembunyikan Pangeran Purbaya. Saat Salingsingan tengah mencari keberadaan Pangeran Purbaya, dan bertemu Nyai Tanjang, berkilah tidak mengetahui keberadaan Pangeran Purbaya.
Pangeran Purbaya lolos dari kejaran Salingsingan, dan dirawat hingga sembuh.
Pangeran Purbaya di pesisir Pantai Pemalang menyusun kekuatan dengan melatih para pemuda setempat berperang. Setelah beberapa saat, Pangeran Purbaya memiliki banyak pasukan dengan jumlah besar. Bahkan, pasukan yang sebelumnya tidak mau berperang, bergabung dengan pasukan Pangeran Purbaya.
Pasukan Pangeran Purbaya berangkat untuk menumpas pemberontak Salingsingan. Dengan jumlah pasukan besar, Pangeran Purbaya berhasil menumpas pemberontak tersebut. Lantaran berhasil, Pangeran Purbaya menemui Nyai Tanjang untuk berterimakasih.
Nyai Tanjang diberikan kenang-kenangan berupa Keris Simongklang. Pangeran Purbaya juga menyampaikan jika sudah tidak kuat memegang Keris Simongklang, maka diserahkan kepada Bupati Pemalang.
Pangeran Purbaya juga berpesan agar tidak memberitahukan asal usul pusaka Keris Simongklang. Pangeran Purbaya juga menyampaikan pada pasukannya, jika bukan karena Nyai Tanjang yang memiliki "Iduh Eri" atau dalam bahasa Indonesia Ludah Duri.
Artinya, Iduh adalah ucapan, dan Eri artinya penghalang yang bermakna jika perkataan Nyai Tanjang yang menghalangi Pangeran Purbaya agar tidak diketahui Salingsingan, maka sudah dibunuh.
Perkataan "Iduh Eri" berkembang menjadi Widuri. Nyai Tanjang yang telah menyelamatkan Pangeran Purbaya mendapatkan julukan Nyai Widuri.
Usai Pangeran Purbaya pergi ke timur, Nyai Tanjang pulang kerumahnya. Suaminya, curiga karena Nyai Tanjang atau Nyai Widuri pulang membawa keris. Karena janjinya terhadap Pangeran Purbaya untuk tidak memberi tahu asal usul keris itu, terjadilah pertengkaran suami dan istri. Nyai Widuri dituduh selingkuh dengan Pangeran Purbaya.
Suami istri itu berebut keris, Kakek Tanjang, suami Nyai Widuri yang umurnya jauh lebih tua, mendapatkan selongsong keris dan Nyai Widuri mendapatkan keris Simongklang. Selongsong keris itu jatuh ke tanah yang mengakibatkan keluarnya mata air.
Kakek Tanjang yang mengira karena dekat dengan laut, air itu rasanya asin. Kakek Tanjang yang masih emosi meminta Nyai Widuri untuk meminum air tersebut dengan tujuan agar Nyao Widuri meninggal.
Namun, Nyai Widuri berbalik membuat pernyataan. Nyai Widuri memberikan pernyataan jika air yang diminumnya tawar, maka Nyai Widuri tidak bersalah.
Setelah Nyai Widuri meminum mata air tersebut, ternyata airnya tawar. Akhirnya, Kakek Tanjang juga ikut minum air tersebut. Saat mengetahui airnya tawar, Kakek Tanjang meminta maaf. Hingga kini, mata air yang berada di Desa Widuri masih dimanfaatkan masyarakat sekitar.
Kakek Tanjang menyusul Pangeran Purbaya untuk meminta maaf karena sudah menuduh selingkuh dengan istrinya. Namun demikian, hingga kini Kakek Tanjang tidak pernah kembali ke Nyai Widuri.
Demikianlah, legenda Kelurahan Widuri, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang yang berkaitan erat dengan kisah Nyai Widuri yang mendapatkan Keris Simongklang dari Pangeran Purbaya. **



